Sebab-sebab Penghapus Dosa
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan:
“Dosa-dosa itu akan mengurangi keimanan. Jika seorang hamba bertaubat, Allah ‘azza wajalla akan mencintainya. Derajatnya akan diangkat disebabkan taubatnya.
Sebagian salaf mengatakan: ‘Dahulu setelah Nabi Dawud ‘alaihissalam bertaubat, keadaannya lebih baik dibandingkan sebelum terjatuh dalam kesalahan. Barangsiapa yang ditakdirkan untuk bertaubat maka dirinya seperti yang dikatakan Sa’id ibnu Jubair rahimahullah, “Sesungguhnya seorang hamba yang melakukan amalan kebaikan, bisa jadi dengan sebab amalan kebaikannya itu akan memasukkannya ke dalam neraka. Bisa jadi pula seorang hamba melakukan amalan kejelekan akan tetapi membawa dirinya masuk ke dalam surga. Hal itu karena ia membanggakan amalan kebaikannya. Sebaliknya, hamba yang terjatuh ke dalam kejelekan membawa dirinya untuk meminta ampun kepada Allah subhanahu wata’ala, kemudian Allah subhanahu wata’ala mengampuni kesalahan-kesalahannya.”
Telah disebutkan dalam hadits yang shahih bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda:
Readmore.....
Luasnya Rahmat Allah Subhanahu wa ta’ala
‘Ali radhiyallahu ‘anhu mengatakan “Kalau engkau benar baru mencuri sekali ini, niscaya Allah akan tutupi apa yg engkau lakukan ini. Tetapi karena engkau telah melakukannya berkali-kali, saat melakukan pencurian yang pertama diulang dengan pencurian yang berikutnya dan berikutnya, maka Allah membongkar apa yang engkau lakukan ini di hadapan manusia.”
Readmore.....
Untukmu Para Penuntut Ilmu
(ditulis oleh: Ummu Affan bintu Abi Salim)
Berikut ini adalah nasihat berharga yang ditinggalkan oleh seorang ‘alim yang mulia yang kini telah tiada. Keharuman ilmunya yang semerbak tetap dinikmati oleh para penuntut ilmu yang ingin meraup faedah darinya, asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Abdullah bin Baz, semoga Allah l merahmatinya.
Saya wasiatkan bagi seluruh kaum muslimin untuk bertakwa kepada Allah l dan mempelajari agama di berbagai madrasah ataupun tempat menuntut ilmu agama lainnya, dan hendaknya mereka bertanya kepada ulama mengenai hukum-hukum agama yang masih menjadi permasalahan bagi mereka, karena Allah l berfirman:
“Dan bertanyalah kepada orang-orang yang berilmu, jika kalian tidak mengetahui.” (al-Anbiya: 7)
Rasulullah n bersabda:
مَنْ يرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ
“Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, maka Allah akan memahamkannya dalam agama.”
Adapun perkara yang paling penting dalam menuntut ilmu adalah membaca Al-Qur’an Al-Karim dan memahami maknanya, serta mencurahkan perhatian dan mempelajari sunnah-sunnah Rasulullah n, juga mengambil faedah dari kitab-kitab Ahlus Sunnah, kitab tafsir Al-Qur’an Al-Karim, dan kitab-kitab yang menerangkan hadits-hadits Nabi n buah karya para ulama yang terkenal dengan keilmuannya, kebaikan agama dan akidahnya. Rasul n bersabda:
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (Sahih, HR. al-Bukhari dalam Shahih-nya)
Beliau n juga mengatakan,
مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ طَرِيْقًا إِلَى الْجَنَّةِ، وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوْتِ اللهِ يَتْلُوْنَ كِتَابَ اللهِ وَيَتَدَارَسُوْنَهُ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِيْنَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيْمَنْ عِنْدَهُ، وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ
“Barang siapa menempuh jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga. Tidaklah berkumpul suatu kaum di salah satu dari rumah-rumah Allah yang mereka membaca Kitabullah dan saling mengajarkannya di antara mereka, kecuali akan turun kepada mereka ketenangan, diliputi oleh rahmat, dikelilingi oleh para malaikat, dan Allah akan menyebut-nyebut mereka kepada siapa saja yang ada di sisi-Nya. Barang siapa yang berlambat-lambat dalam amalannya, niscaya tidak akan bisa dipercepat oleh nasabnya.” (HR. Muslim dalam Shahih-nya)
Readmore.....
Hadits-hadits Dhaif Tentang Ahlul Bait
(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu ‘Utsman Abdul Barr Kaisinda)
Orang-orang Syi’ah Rafidhah menyanjung demikian tinggi para Ahlul Bait, namun di sisi lain mereka merendahkan para shahabat yang lain. Sikap yang jelas keliru itu memang didasari oleh kedustaan, yaitu hadits-hadits yang disandarkan kepada Rasulullah n namun memiliki derajat dha’if bahkan maudhu’ (palsu). Berikut ini beberapa contoh hadits yang dijadikan mereka sebagai hujjah.
Telah menjadi Sunnatullah (ketetapan Allah) bahwasanya musuh-musuh agama baik dari kalangan orang-orang kafir maupun munafiqin, selalu berjuang keras merongrong agama Allah dengan segala cara. Namun demikian, Allah juga telah menetapkan bahwa agama-Nya akan senantiasa terjaga dengan perantaraan para ulama yang menerangkan kepada umat akan bahaya makar-makar busuk mereka. Allah berfirman:
“Kamilah yang menurunkan Adz-Dzikr dan Kami juga yang menjaganya.” (Al-Hijr: 9)
Sebagaimana telah diketahui, rusaknya agama Nasrani dikarenakan menyusupnya orang-orang Yahudi ke dalam agama Nasrani yang kemudian berhasil melakukan perubahan atas agama tersebut. Selanjutnya, dengan berbagai cara mereka pun berusaha menyusupi agama Islam. Diantara penyusup itu adalah Abdullah bin Saba’, seorang Yahudi pencetus agama Rafidhah yang sekarang lebih dikenal dengan nama Syi’ah. (Majmu’ Al-Fatawa juz 4 hal. 52)
Orang-orang Syi’ah pengikut Abdullah bin Saba’ Al-Yahudi mengaku-aku cinta kepada Ahlul Bait Rasulullah n di mana hal itu hanyalah topeng semata untuk menutupi kebusukan yang ada pada mereka.
Segala cara telah mereka lakukan untuk menghancurkan Islam, di antaranya dengan memalsukan hadits-hadits dari Rasulullah n. Namun Allah memilih ulama Ahlus Sunnah yang mengilmui tentang hadits untuk berjihad dengan menerangkan kepada umat hadits-hadits yang didustakan atas nama Rasulullah n dan merupakan kewajiban bagi mereka untuk menerangkan hal yang seperti itu. (Lisanul Mizan juz 1 hal. 98)
Tidak mengherankan bila mereka berani berdusta atas nama Rasulullah n karena memang syiar agama Rafidhah adalah kedustaan yang dilapisi dengan kemunafikan. (Mizanul I’tidal, juz 1 hal. 6)
Dalam kesempatan yang singkat ini kita akan bawakan sejumlah hadits yang dipalsukan Syi’ah Rafidhah beserta keterangan dari ulama ahli hadits khususnya dalam permasalahan ‘ilal hadits (penyakit/ cacat yang ada pada hadits).
Readmore.....
Khilafah Tidak Mesti Pada Ahlul Bait
(ditulis oleh: Al-Ustadz Muhammad Umar As-Sewed)
Kaum muslimin (baca: para shahabat) telah berijma’ bahwa khalifah pertama pengganti Rasulullah n adalah Abu Bakr Ash-Shiddiq. Namun ada sekelompok orang yang mengaku sebagai muslimin, tidak menerima keadaan ini. Orang-orang yang mengaku sebagai pecinta Ahlul Bait ini mengklaim bahwa Ali bin Abi Thalib lebih berhak menjadi khalifah dibanding Abu Bakr Ash-Shiddiq. Mereka adalah orang-orang Syi'ah. Uraian berikut mencoba membongkar berbagai kebohongan yang menjadi pijakan sikap mereka.
Ahlul Bait Mengakui Keabsahan Khilafah Abu Bakr Ash-Shiddiq
Syubhat terbesar kaum Syi’ah adalah meragukan keabsahan khilafah Abu Bakr Ash-Shiddik z. Mereka menganggap dibai’atnya Abu Bakr z adalah tidak sah, karena Ali dan keluarganya atau Ahlul Bait tidak diajak musyawarah, padahal Ali lebih berhak menjadi khalifah daripada Abu Bakr atau Umar g. Demikianlah syubhat Syi’ah yang mereka hembuskan di mana-mana, dengan kalimat yang sama dari tokoh Syi'ah yang berbeda-beda, bagaikan satu kaset yang diputar berulang-ulang.
Pemahaman sesat dari orang-orang Persia ini selalu mengatasnamakan Ahlul Bait dan menganggap pemahamannya sebagai “madzhab Ahlul Bait”. Sehingga yang paling mudah terbawa dengan pemahaman Syi'ah ini adalah orang-orang yang mengaku sebagai turunan Ali z atau Alawiyyin, kecuali yang Allah I rahmati. Ketika disampaikan kepada mereka bahwa Ahlul Bait terdzalimi bangkitlah emosi kekeluargaannya. Padahal apa yang disampaikan oleh kaum Syi'ah -yang merupakan jelmaan kaum Majusi Persia- adalah kedustaan yang nyata dan tidak memiliki bukti yang otentik.
Biasanya mereka mengambil riwayat-riwayat tersebut dari kitab yang paling terkenal di kalangan mereka yaitu Nahjul Balaghah, yang berisi ucapan-ucapan, khutbah-khutbah dan sya’ir-sya’ir yang semuanya diatasnamakan Ali bin Abi Thalib z. Penulis buku tesebut mengesankan bahwa seakan-akan Ali z tidak terima dengan keputusan para shahabat memilih Abu Bakr sebagai khalifah. Bahkan dinukil bahwa Ali mencaci dan mencerca Abu Bakr, Umar dan para shahabat yang lain. Namun sayang penulis buku tersebut tidak membawakan ucapan-ucapan Ali z tersebut dengan sanadnya (rantai para rawi) sehingga tidak dapat diperiksa keotentikannya secara ilmiah dengan standar ilmu hadits.
Kitab ini -yang di kalangan kaum Syi'ah sejajar dengan Al-Qur’an- ternyata disusun dan dikarang oleh seorang tokoh sesat dari kalangan Syi’ah Imamiyyah Rafidah yang bernama Al-Murtadla Abi Thalib Ali bin Husain bin Musa Al-Musawi (meninggal th. 436 Hijriyah). Yang telah dinyatakan oleh para Ulama Ahlus Sunnah sebagai pendusta atas nama Ali bin Abi Thalib z.
Al-Imam Adz-Dzahabi berkata ketika membahas biografi orang ini sebagai berikut: “Dia adalah penghimpun kitab Nahjul Balaghah yang menyandarkan kalimat-kalimat yang ada dalam kitab ini kepada Imam Ali z tanpa disebutkan sanad-sanadnya. Sebagian kalimat itu batil, meskipun juga di dalamnya ada hal yang benar1. Namun ucapan-ucapan palsu yang terdapat dalam kitab ini mustahil diucapkan oleh Al-Imam Ali.” (Siyar A’lamin Nubala`, 17/589-590)
Beliau juga berkata: “…Barangsiapa melihat buku Nahjul Balaghah, maka ia akan yakin bahwa ucapan-ucapan itu adalah dusta atas nama Amirul Mukminin Ali z, karena di dalamnya terdapat caci-makian yang sangat jelas terhadap dua tokoh besar shahabat yaitu Abu Bakr dan Umar c. Juga tedapat ungkapan-ungkapan yang kaku (menurut kaidah sastra Arab, pen.) bagi orang yang kenal jiwa bangsa Quraisy (dan tingginya bahasa mereka, pen.) dari kalangan para shahabat. Dan orang-orang setelahnya akan mengerti dengan yakin bahwa kebanyakan isi kitab tersebut adalah batil. (Mizanul i’tidal 3/124 Lisanul Mizan, 4/223)
Ibnu Sirin menilai bahwa seluruh apa yang mereka (kaum Syi'ah) riwayatkan dari Ali zadalah kedustaan. (Al-‘Alamus Syamikh, hal. 237)
Readmore.....
Keutamaan Ahlul Bait
(ditulis oleh: Al-Ustadz Muhammad Umar As-Sewed)
Istilah Ahlul Bait mungkin terdengar agak asing di telinga sebagian orang. Bisa dimaklumi, mengingat keadaan kaum muslimin yang memang semakin kurang peduli terhadap agamanya. Padahal ketika seseorang tidak dibimbing secara benar dalam memahami persoalan Ahlul Bait, ia sangat rentan terjatuh pada penyimpangan. Realita menunjukkan, pemahaman yang keliru terhadap kedudukan Ahlul Bait telah melahirkan demikian banyak kelompok menyimpang.
Seluruh Ulama Ahlus Sunnah mengakui keutamaan Ahlul Bait Rasulullah n, karena telah jelas dalil-dalil yang menunjukkan keutamaan mereka dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Di antaranya adalah apa yang Allah I katakan tentang mereka dalam ayatnya:
“Dan hendaklah kalian tetap di rumahmu, janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah dahulu. Dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kalian, wahai Ahlul Bait dan membersihkan kalian sebersih-bersihnya.” (Al-Ahzab: 33)
Readmore.....









