KISAH YANG MENAKJUBKAN NAN MENGHARUKAN
Kisah Nabi Yunus
(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Harits Abrar)
Dalam berdakwah kepada kaumnya, Nabi Yunus u menghadapi penentangan yang demikian keras. Sekian lama beliau berdakwah namun tidak juga membawa hasil. Keadaan ini membuat Nabi Yunus u marah dan meninggalkan kaumnya. Allah pun menegurnya. Bagaimana akhir dari dakwah Nabi Yunus u?
Nabi Yunus u termasuk nabi dari keturunan Bani Israil. Allah I mengutusnya kepada penduduk negeri Ninawa di Mosul (Irak). Beliau menyeru kaumnya untuk kembali kepada Allah I, namun mereka menolaknya. Nabi Yunus u tidak berputus asa, selalu berusaha dan berusaha mendakwahi mereka, namun mereka tetap menolak. Kemudian Nabi Yunus u mengancam dengan azab dan pergi meninggalkan mereka, tidak sabar sebagaimana mestinya. Beliau u pergi dalam keadaan marah.
Sementara itu, sepeninggal Nabi Yunus u, Allah mengilhamkan kepada kaum tersebut untuk bertaubat dan kembali kepada-Nya. Itu terjadi setelah mereka menyaksikan sebagian dari pendahuluan azab yang diancamkan kepada mereka. Allah pun menyelamatkan mereka dari azab tersebut. Secara lahiriah, Nabi Yunus u mengetahui mereka telah selamat dari azab itu, namun beliau tetap tidak mau kembali. Oleh karena itulah Allah I berfirman:
“Ketika dia pergi dalam keadaan marah.” (Al-Anbiya: 87)
Dan firman Allah I:
“ketika dia lari ke kapal yang penuh muatan.” (Ash-Shaffat: 140)
Nabi Yunus u naik ke kapal yang sudah penuh dengan penumpang dan barang. Sampai di tengah lautan, kapal tersebut mulai memperlihatkan tanda-tanda akan tenggelam. Saat itu hanya ada dua pilihan, mereka tetap bersama-sama di atas kapal tapi tenggelam semua, atau satu per satu dilemparkan ke laut sekedar meringankan muatan kapal dan menyelamatkan yang lain. Akhirnya diputuskan untuk memilih yang kedua. Mulailah diundi siapa yang akan dilemparkan ke laut. Termasuk dalam undian itu adalah Nabi Yunus u. Allah I mengatakan:
“Lalu dia termasuk orang-orang yang kalah.” (Ash-Shaffat: 141)
Yakni, Nabi Yunus u kalah dalam undian tersebut. Merekapun melemparnya ke laut dan kemudian ditelan bulat-bulat oleh seekor ikan dari dalam laut. Di dalam kegelapan perut ikan itu, beliau berdoa:
Pembunuh 100 Jiwa
(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Harits)
Kisah ini pernah terjadi di zaman Bani Israil dahulu kala. Nabi n menceritakannya kepada umatnya agar menjadi pelajaran berharga dan teladan dalam kebaikan.
Al-Imam Al-Bukhari dan Muslim rahimahumallah meriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri, Sa’id bin Malik bin Sinan c, bahwa Nabi n bersabda:
كَانَ فِيمَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ رَجُلٌ قَتَلَ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ نَفْسًا فَسَأَلَ عَنْ أَعْلَمِ أَهْلِ الْأَرْضِ فَدُلَّ عَلَى رَاهِبٍ فَأَتَاهُ فَقَالَ إِنَّهُ قَتَلَ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ نَفْسًا فَهَلْ لَهُ مِنْ تَوْبَةٍ؟ فَقَالَ: لاَ. فَقَتَلَهُ فَكَمَّلَ بِهِ مِائَةً ثُمَّ سَأَلَ عَنْ أَعْلَمِ أَهْلِ الْأَرْضِ فَدُلَّ عَلَى رَجُلٍ عَالِمٍ فَقَالَ إِنَّهُ قَتَلَ مِائَةَ نَفْسٍ فَهَلْ لَهُ مِنْ تَوْبَةٍ؟ فَقَالَ: نَعَمْ، وَمَنْ يَحُولُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ التَّوْبَةِ، انْطَلِقْ إِلَى أَرْضِ كَذَا وَكَذَا فَإِنَّ بِهَا أُنَاسًا يَعْبُدُونَ اللهَ فَاعْبُدِ اللهَ مَعَهُمْ وَلاَ تَرْجِعْ إِلَى أَرْضِكَ فَإِنَّهَا أَرْضُ سَوْءٍ. فَانْطَلَقَ حَتَّى إِذَا نَصَفَ الطَّرِيقَ أَتَاهُ الْمَوْتُ فَاخْتَصَمَتْ فِيهِ مَلاَئِكَةُ الرَّحْمَةِ وَمَلاَئِكَةُ الْعَذَابِ فَقَالَتْ مَلاَئِكَةُ الرَّحْمَةِ: جَاءَ تَائِبًا مُقْبِلاً بِقَلْبِهِ إِلَى اللهِ. وَقَالَتْ مَلاَئِكَةُ الْعَذَابِ: إِنَّهُ لَمْ يَعْمَلْ خَيْرًا قَطُّ. فَأَتَاهُمْ مَلَكٌ فِي صُورَةِ آدَمِيٍّ فَجَعَلُوهُ بَيْنَهُمْ فَقَالَ: قِيسُوا مَا بَيْنَ الْأَرْضَيْنِ فَإِلَى أَيَّتِهِمَا كَانَ أَدْنَى فَهُوَ لَهُ. فَقَاسُوهُ فَوَجَدُوهُ أَدْنَى إِلَى الْأَرْضِ الَّتِي أَرَادَ فَقَبَضَتْهُ مَلاَئِكَةُ الرَّحْمَةِ. قَالَ قَتَادَةُ: فَقَالَ الْحَسَنُ: ذُكِرَ لَنَا أَنَّهُ لَمَّا أَتَاهُ الْمَوْتُ نَأَى بِصَدْرِهِ
Dahulu, di zaman orang-orang sebelum kalian, ada seorang laki-laki yang telah membunuh 99 jiwa. Dia pun bertanya tentang orang yang paling alim di muka bumi ketika itu, lalu ditunjukkan kepadanya tentang seorang rahib (pendeta, ahli ibadah). Maka dia pun mendatangi rahib tersebut lalu mengatakan bahwa sesungguhnya dia telah membunuh 99 jiwa, apakah ada taubat baginya? Ahli ibadah itu berkata: “Tidak.” Seketika laki-laki itu membunuhnya. Maka dia pun menggenapi dengan itu (membunuh rahib) menjadi 100 jiwa. Kemudian dia menanyakan apakah ada orang yang paling alim di muka bumi ketika itu? Lalu ditunjukkanlah kepadanya tentang seorang yang berilmu. Maka dia pun mengatakan bahwa sesungguhnya dia telah membunuh 100 jiwa, apakah ada taubat baginya? Orang alim itu berkata: “Ya. Siapa yang menghalangi dia dari taubatnya? Pergilah ke daerah ini dan ini. Karena sesungguhnya di sana ada orang-orang yang senantiasa beribadah kepada Allah, maka beribadahlah kamu kepada Allah bersama mereka. Dan jangan kamu kembali ke negerimu, karena negerimu itu adalah negeri yang buruk/jahat.”
Maka dia pun berangkat. Akhirnya, ketika tiba di tengah perjalanan datanglah kematian menjemputnya, (lalu dia pun mati). Maka berselisihlah malaikat rahmat dan malaikat azab tentang dia.
Malaikat rahmat mengatakan: “Dia sudah datang dalam keadaan bertaubat, menghadap kepada Allah dengan sepenuh hatinya.”
Sementara malaikat azab berkata: “Sesungguhnya dia belum pernah mengerjakan satu amalan kebaikan sama sekali.”
Datanglah seorang malaikat dalam wujud seorang manusia, lalu mereka jadikan dia (sebagai hakim pemutus) di antara mereka berdua. Maka kata malaikat itu: “Ukurlah jarak antara (dia dengan) kedua negeri tersebut. Maka ke arah negeri mana yang lebih dekat, maka dialah yang berhak membawanya.”
Lalu keduanya mengukurnya, dan ternyata mereka dapatkan bahwa orang itu lebih dekat kepada negeri yang diinginkannya. Maka malaikat rahmat pun segera membawanya.
Kata rawi: Kata Qatadah: Al-Hasan mengatakan: “Disebutkan kepada kami, bahwa ketika kematian datang menjemputnya, dia busungkan dadanya (ke arah negeri tujuan).”
Hadits ini menceritakan kepada kita tentang orang yang telah membunuh 99 jiwa lalu dia menyesal dan bertaubat serta bertanya tentang ahli ilmu yang ada ketika itu. Kemudian ditunjukkan kepadanya seorang ahli ibadah.
Ternyata ahli ibadah itu hanyalah ahli ibadah, tidak mempunyai ilmu. Rahib tersebut menganggap besar urusan itu sehingga mengatakan: “Tidak ada taubat bagimu.” Laki-laki pembunuh itu marah lantas membunuh ahli ibadah tersebut. Lengkaplah korbannya menjadi 100 jiwa.
Kemudian dia tanyakan lagi tentang ahli ilmu yang ada di masa itu. Maka ditunjukkanlah kepadanya seorang yang alim. Lalu dia bertanya, apakah ada taubat baginya yang telah membunuh 100 jiwa? Orang alim itu menegaskan: “Ya. Siapa yang bisa menghalangimu untuk bertaubat? Pintu taubat terbuka lebar. Tapi pergilah, tinggalkan negerimu menuju negeri lain yang di sana ada orang-orang yang beribadah kepada Allah l, dan jangan pulang ke kampungmu, karena negerimu adalah negeri yang buruk.”
Akhirnya, lelaki itu pun pergi berhijrah. Dia berangkat meninggalkan kampung halamannya yang buruk dalam keadaan sudah bertaubat serta menyesali perbuatan dan dosa-dosanya. Dia pergi dengan satu tekad meninggalkan dosa yang dia lakukan, memperbaiki diri, mengisi hari esok dengan amalan yang shalih sebagai ganti kezaliman dan kemaksiatan yang selama ini digeluti.
Di tengah perjalanan menuju kampung yang baik, dengan membawa segudang asa memperbaiki diri, Allah l takdirkan dia harus mati.
Takdir dan kehendak Allah l jua yang berlaku. Itulah rahasia dari sekian rahasia Allah Yang Maha Bijaksana. Tidak mungkin ditanya mengapa Dia berbuat begini atau begitu. Tetapi makhluk-Nya lah yang akan ditanya, mengapa mereka berbuat begini dan begitu. Allah l Maha melakukan apa saja yang Dia inginkan.
Semua yang ada di alam semesta, baik yang terlihat maupun tidak terlihat adalah milik Allah k, ciptaan-Nya dan di bawah pengawasan serta pengaturan-Nya. Dia Yang menentukan setiap perbuatan seorang hamba, 50.000 tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumi. Dia yang memberikan perangkat kepada seorang hamba untuk melakukan sesuatu. Dia pula yang memberi taufiq kepada hamba tersebut ke arah apa yang telah ditakdirkan-Nya.
Pembunuh 100 jiwa itu, adalah salah satu dari makhluk ciptaan Allah l. Dia ada di bawah kehendak dan kendali Allah l. Ketentuan dan takdir Allah l sudah pasti berlaku pula atasnya. Perbuatan zalim yang dikerjakannya adalah takdir Allah l. Taubat dan penyesalan yang dia rasakan dan dia inginkan adalah takdir dari Allah l. Alangkah beruntungnya dia. Tapi kalau begitu, zalimkah Allah l? Kejamkah Dia kepada hamba-Nya?
Jawabnya sudah pasti, tidak. Sama sekali tidak. Dari sisi manapun, Dia bukanlah Dzat yang zalim.
Apakah kezaliman itu? Kezaliman adalah berbuat sesuatu pada hal-hal yang bukan miliknya. Atau meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya.
Siapakah Allah l? Dan siapakah kita? Milik siapakah kita?
Kita milik Allah l. Dia-lah Yang telah menciptakan dan mengatur kita. Dia Maha Tahu yang tepat bagi hamba-Nya. Dia Maha Bijaksana, Dia meletakkan segala sesuatu sesuai pada tempatnya. Dia Maha Tahu apa yang diciptakan-Nya. Dia Maha Tahu apa yang terbaik bagi ciptaan-Nya. Allahu Akbar.
Lelaki itu meninggal dunia. Dia mati dalam keadaan belum ‘beramal shalih’ sekali pun. Dia hanya punya tekad memperbaiki diri, bertaubat dari semua kesalahan. Hal itu terwujud dari keinginannya bertanya kepada mereka yang dianggap berilmu: Apakah ada taubat baginya? Semua itu tampak dari tekadnya pergi meninggalkan masa lalu yang kelam, menyongsong cahaya hidayah dan kebaikan.
Alangkah besar karunia Allah l kepada dirinya. Alangkah besar rahmat Allah l kepada para hamba-Nya. Tetapi alangkah banyak manusia yang tidak mengetahui bahkan tidak mensyukuri nikmat tersebut.
Sungguh, andaikata kezaliman-kezaliman yang dikerjakan oleh Bani Adam ini harus diselesaikan dengan azab dan siksa di dunia, niscaya tidak akan ada lagi satu pun makhluk yang melata di atas muka bumi ini. Sungguh, seandainya kemurkaan Allah l yang lebih dahulu daripada rahmat-Nya, niscaya tidak akan pernah ada rasul yang diutus, tidak ada Kitab Suci yang diturunkan. Tidak ada ulama dan orang shalih serta berilmu yang memberi nasihat, peringatan, dan bimbingan. Bahkan tidak akan ada satu pun makhluk yang melata di muka bumi ini.
Allah l berfirman:
“Dan kalau sekiranya Allah menyiksa manusia disebabkan usahanya, niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu makhluk yang melata pun akan tetapi Allah menangguhkan (penyiksaan) mereka, sampai waktu yang tertentu; maka apabila datang ajal mereka, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya.” (Fathir: 45)
Kerusakan yang terjadi di muka bumi ini, di daratan maupun di lautan tidak lain adalah akibat ulah manusia. Sementara kesempatan hidup yang diberikan kepada mereka membuat mereka lupa, bahkan semakin menambah kedurhakaan mereka. Ingatlah firman Allah l:
“Maka serahkanlah (ya Muhammad) kepada-Ku (urusan) orang-orang yang mendustakan perkataan ini (Al-Qur’an). Nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui, dan Aku memberi tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencana-Ku amat teguh.” (Al-Qalam: 44-45)
Maka jelas pulalah bagi kita alangkah jahatnya ucapan orang yang mengatakan: “Saya tidak suka tuhan yang kejam.”
Andaikata yang dia maksud adalah Allah l, maka hanya ada dua kemungkinan pada diri orang seperti ini, kafir (murtad) atau kurang akalnya (idiot). Apabila sudah dia terima bukti dan keterangan tapi masih menolak dan mengingkari, maka dikhawatirkan dia telah keluar dari Islam.
Betapa luas nikmat Allah l kepada hamba-Nya. Siang malam Dia memerhatikan serta mencurahkan rahmat dan kasih sayang-Nya kepada mereka. Tetapi mereka justru menampakkan kebencian kepada Allah l dengan senantiasa mengerjakan maksiat sepanjang siang dan malam.
Maka dari itu:
“Maka terhadap nikmat Rabbmu yang manakah kamu ragu-ragu?” (An-Najm: 55)
Dan:
“Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (Ar-Rahman: 75)
Di antara rahmat Allah l juga adalah seperti yang diriwayatkan Al-Imam Muslim t dari Anas bin Malik z:
لَلَّهُ أَشَدُّ فَرَحًا بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ حِينَ يَتُوبُ إِلَيْهِ مِنْ أَحَدِكُمْ كَانَ عَلَى رَاحِلَتِهِ بِأَرْضِ فَلَاةٍ فَانْفَلَتَتْ مِنْهُ وَعَلَيْهَا طَعَامُهُ وَشَرَابُهُ فَأَيِسَ مِنْهَا فَأَتَى شَجَرَةً فَاضْطَجَعَ فِي ظِلِّهَا قَدْ أَيِسَ مِنْ رَاحِلَتِهِ فَبَيْنَا هُوَ كَذَلِكَ إِذَا هُوَ بِهَا قَائِمَةً عِنْدَهُ فَأَخَذَ بِخِطَامِهَا ثُمَّ قَالَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ: اللَّهُمَّ أَنْتَ عَبْدِي وَأَنَا رَبُّكَ. أَخْطَأَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ
“Benar-benar Allah sangat gembira dengan taubat hamba-Nya ketika dia bertaubat kepada-Nya daripada salah seorang kamu yang berada di atas kendaraannya di sebuah tanah padang yang sunyi, lalu kendaraan itu lepas (lari) meninggalkannya, padahal di atasnya ada makanan dan minumannya. Akhirnya dia putus asa mendapatkannya kembali. Maka dia pun mendatangi sebatang pohon lalu berbaring di bawah naungannya, dalam keadaan putus asa dari kendaraannya. Ketika dia dalam keadaan demikian, ternyata tiba-tiba kendaraan itu berdiri di dekatnya. Lalu dia pun menggenggam tali kekangnya dan berkata saking gembiranya: ‘Ya Allah, Engkau hambaku dan aku Rabbmu.’ Dia salah ucap karena saking gembiranya.”
Inilah Hakikat Hijrah
Hijrah adalah salah satu kewajiban ajaran Islam, salah satu amalan shalih paling utama, bahkan merupakan sebab keselamatan agama seseorang serta perlindungan bagi imannya. Hijrah terbagi menjadi beberapa bagian, di antaranya ialah hijrah meninggalkan apa yang diharamkan Allah l dan Rasul-Nya n atas setiap mukallaf. Maka, orang yang bertaubat dari kemaksiatan yang telah lalu berarti dia telah berhijrah meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah l dan Rasul-Nya n.
Sedangkan seorang muslim, dibebankan kepadanya agar meninggalkan segala yang diharamkan oleh Allah l.
Nabi n bersabda:
إِنَّ الْمُهَاجِرَ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللهُ عَنْهُ
“Sesungguhnya, muhajir sejati adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah.” (HR. Ahmad, no. 6912)
Sabda Nabi n ini sekaligus perintah, meliputi semua perbuatan haram baik dalam bentuk ucapan maupun perbuatan.
Apa yang disabdakan Nabi n ini meliputi pula hijrah lahir dan hijrah batin. Hijrah lahir adalah lari membawa tubuhnya menyelamatkan diri dari fitnah. Sedangkan hijrah batin adalah meninggalkan apa saja yang menjadi ajakan hawa nafsu yang senantiasa memerintahkan kepada kejelekan dan apa-apa yang dijadikan indah oleh setan. Hijrah kedua ini merupakan dasar bagi hijrah yang pertama.
Allah l berfirman:
“Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (An-Nisa’: 100)
Asy-Syaikh As-Sa’di t dalam tafsirnya tentang ayat ini mengatakan:
Kemudian firman Allah l:
“Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya”, maksudnya yang sengaja menuju Rabbnya, mengharap ridha-Nya, karena cinta kepada Rasul-Nya, dan demi membela agama Allah l, serta bukan karena tujuan lain,
“Kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju)”, karena terbunuh atau sebab lainnya,
“Maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah.” Yakni, pahala muhajir yang mencapai tujuannya dengan jaminan dari Allah l telah dia terima. Hal itu karena dia telah berniat dan bertekad; dia telah memulai kemudian segera mulai mengerjakannya. Maka termasuk rahmat Allah l atasnya dan orang-orang seperti dia adalah Allah l memberinya pahala sempurna. Meskipun mereka belum mengerjakan amalan mereka secara tuntas, serta mengampuni mereka dengan kekurangan yang ada pada hijrah atau amalan tersebut.
Sebab itulah, Allah l akhiri ayat ini dengan dua nama-Nya yang mulia dalam firman-Nya:
“Dan adalah Allah Maha pengampun lagi Maha penyayang.” Dia memberi ampunan bagi kaum mukminin yang mengerjakan dosa terutama mereka yang bertaubat kepada Rabb mereka. Dia Maha penyayang kepada seluruh makhluk-Nya. Penyayang kepada kaum mukminin dengan memberi mereka taufiq agar beriman, mengajari mereka ilmu yang menambah keyakinan mereka, memudahkan mereka sebab-sebab menuju kebahagiaan dan kemenangan.
Beberapa Faedah
1. Seorang pembunuh, bisa diterima taubatnya. Dalilnya adalah firman Allah l:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (An-Nisa’: 48)
Inilah pendapat jumhur ulama. Adapun pendapat Ibnu ‘Abbas c bahwa tidak ada taubat bagi seorang pembunuh karena Allah l berfirman:
“Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.” (An-Nisa’: 93)
Mungkin bisa dibawa kepada pengertian bahwa tidak ada taubat sehubungan dengan korban yang terbunuh. Karena si pembunuh terkait dengan tiga hak sekaligus: hak Allah l, hak korban yang dibunuhnya, dan hak ahli waris korban (walinya).
Adapun hak Allah l, tidak disangsikan lagi bahwa Allah l akan mengampuninya dengan adanya taubat dari pelaku maksiat tersebut, sebagaimana firman Allah l:
“Katakanlah: ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang’.” (Az-Zumar: 53)
Juga firman Allah l:
“Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah, tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan dilipatgandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman, dan mengerjakan amal shalih. Maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.” (Al-Furqan: 68-71)
Adapun hak korban yang dibunuhnya, maka taubat si pembunuh tidaklah berguna dan jelas belum tertunaikan hak korbannya, karena korban itu sudah mati. Tidak mungkin pula sampai pada tingkat dia minta penghalalan atau lepas dari tuntutan darahnya. Jadi, inilah yang masih tersisa serta menjadi beban tuntutan di pundak si pembunuh, meskipun dia sudah bertaubat. Sedangkan pada hari kiamat, maka Allah l akan memutuskan perkara di antara mereka.
Sedangkan hak ahli waris (wali) korban, maka taubat si pembunuh juga tidak sah hingga dia menyerahkan dirinya kepada mereka, mengakui perbuatannya, dan menyerahkan kepada mereka, apakah dia harus dihukum mati (qishash), membayar diyat (tebusan), atau mereka memaafkannya.
2. Dalam hadits kisah ini, disyariatkan untuk bertaubat dari semua dosa besar. Mungkin, ketika Allah l menerima taubat seorang pembunuh, Dia menjamin keridhaan lawan (korban)nya, dan Dia kembalikan kezalimannya. Inilah salah satu rahmat dan keadilan Allah l.
3. Kisah ini melarang kita membuat orang lain putus asa dari dosa besar yang dikerjakannya. Allah l sendiri telah menerangkan bahwa Dia tidak akan menjadikan kekal di neraka orang yang mati dalam keadaan bertauhid, sebagaimana dalam hadits Anas z yang diriwayatkan At-Tirmidzi t:
سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّه ِn يَقُولُ: قَالَ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: يَا ابْنَ آدَمَ، إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِي وَرَجَوْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيكَ وَلَا أُبَالِي، يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ وَلَا أُبَالِي، يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِي لَا تُشْرِكُ بِي شَيْئًا لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً
Saya mendengar Rasulullah n bersabda: “Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman: ‘Wahai Bani Adam, sesungguhnya selama engkau berdoa kepada-Ku, mengharapkan-Ku, niscaya Aku beri ampun kepadamu atas apa yang ada padamu, dan Aku tidak peduli. Wahai Bani Adam, seandainya dosa-dosamu mencapai langit kemudian kamu minta ampun kepada-Ku niscaya Aku beri ampunan kepadamu, dan Aku tidak peduli. Wahai Bani Adam, sungguh, seandainya engkau datang kepada-Ku membawa dosa sepenuh bumi kemudian engkau bertemu dengan-Ku dalam keadaan tidak menyekutukan Aku dengan apapun, pasti Aku datang kepadamu dengan membawa ampunan sepenuh itu juga.”
Namun, bisa jadi pula dia diampuni dan tidak masuk neraka sama sekali, atau diazab sebagaimana pelaku maksiat lainnya dari kalangan orang yang bertauhid lalu dikeluarkan menuju ke dalam jannah. Maka janganlah berputus asa dari rahmat Allah l dan jangan pula membuat orang lain berputus asa darinya. Allah l berfirman tentang Khalil-Nya, Ibrahim q:
“Ibrahim berkata: ‘Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Rabbnya, kecuali orang-orang yang sesat’.” (Al-Hijr: 56)
4. Di dalam kisah ini terdapat pula keutamaan berpindah dari negeri yang di sana seseorang bermaksiat, apakah karena adanya teman dan fasilitas yang mendukung atau hal-hal lainnya.
5. Dari kisah ini pula jelaslah betapa seseorang tidak mungkin selamat dan lolos dari azab kecuali dengan beratnya timbangan kebaikan dirinya meski hanya sebesar biji sawi. Maka dari itu, sudah semestinyalah orang yang bertaubat memperbanyak amal kebaikannya.
6. Termasuk tugas seorang yang bertaubat –kalau dia bukan orang yang berilmu– hendaknya dia pelajari apa saja yang wajib atas dirinya di masa yang akan datang dan apa yang haram dikerjakannya.
7. Perlu pula diingat dalam kisah ini, bahwasanya lingkungan yang baik, bergaul dengan orang shalih akan menambah iman seseorang. Sedangkan segala kerusakan, petaka dan penyimpangan, tumbuhnya tidak lain karena adanya dukungan para setan dan bala tentaranya, termasuk dari kalangan manusia yang senantiasa membuka pintu kelalaian dan syahwat serta tidak mendukungnya kepada kebaikan dan ketaatan.
Sungguh indah peringatan Rasulullah n dalam hadits Abu Musa Al-Asy’ari z:
مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسُّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيْرِ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً، وَنَافِخُ الْكِيْرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً
“Perumpamaan teman duduk yang baik dan teman duduk yang buruk adalah seperti pembawa misik dan pandai besi. Adapun si pembawa misik (minyak wangi), mungkin dia akan memberimu, atau kamu membeli darinya, atau kamu dapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, mungkin dia akan membakar pakaianmu, atau kamu dapatkan bau tidak sedap darinya.”
8. Satu hal yang harus kita ingat dari kisah ini, tekad dan niat ikhlas si pembunuh, itulah yang mengantarnya kepada rahmat Allah l yang teramat luas. Meski belum mengisi lembaran hidup barunya dengan kebaikan, tetapi tekad dan niat ikhlas ini sangat bernilai di sisi Allah l. Inilah salah satu buah dan keutamaan tauhid yang murni.
Mudah-mudahan Allah l membimbing kita membersihkan hati kita dari kekotoran syirik dan maksiat sampai kita bertemu dengan-Nya dalam keadaan membawa hati yang selamat. Amin.
http://asysyariah.com/syariah/ibrah/478-pembunuh-100-jiwa-ibrah-edisi-51.html Readmore.....
Pelajaran dari Kisah Nabi Nuh
ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Harits)
Pelajaran terpenting yang bisa diambil dari kisah Nabi Nuh q adalah bahwa dakwah setiap nabi dan rasul adalah satu, yaitu menyeru umat untuk beribadah kepada Allah l saja (dakwah tauhid).
Nabi Nuh q tinggal di tengah-tengah kaumnya selama kira-kira 950 tahun dan masih hidup sepeninggal mereka selama waktu yang dikehendaki Allah l. Beliau termasuk salah seorang rasul yang disebut Ulul ‘Azmi dan salah satu dari lima nabi yang diharapkan syafaatnya pada hari kiamat. Nabi Nuh q juga merupakan rasul Allah l yang pertama diutus kepada umat manusia dan beliau bapak kedua manusia sesudah Nabi Adam q. Semoga Allah l melimpahkan shalawat dan salam kepada beliau dan kepada para nabi seluruhnya.
Dari kisah Nabi Nuh q dapat kita ambil beberapa faedah, antara lain:
1. Seluruh dakwah nabi dan rasul sejak Nuh q sampai Muhammad n adalah satu, yaitu menyeru umat manusia untuk bertauhid yang murni dan melarang mereka dari berbuat syirik. Nabi Nuh q dan yang lainnya selalu mendahulukan dakwah mereka dengan menyerukan:
“Beribadahlah kalian hanya kepada Allah. Tidak ada sesembahan bagi kalian selain Dia.” (al-A’raf: 59)
Mereka senantiasa mengulang-ulang seruan yang utama ini dengan berbagai cara. 2. Dalam kisah ini terdapat adab berdakwah dan hal-hal yang menyempurnakannya. Kita lihat dalam kisah ini, Nabi Nuh q berdakwah mengajak umatnya siang malam, sembunyi-sembunyi dan terang-terangan, dalam setiap kesempatan dan keadaan yang memungkinkan berhasilnya dakwah. Beliau membangkitkan keinginan mereka dalam meraih pahala di dunia dengan keselamatan dari siksa, bersenang-senang dengan harta dan anak-anak, serta limpahan rezeki seandainya mereka beriman, begitu juga dengan pahala di akhirat. Beliau mengingatkan umatnya agar menjauhi syirik dengan bersabar dalam menyampaikan dakwah ini dengan kesabaran yang demikian hebat seperti juga rasul-rasul lainnya. Beliau ajak kaumnya berbicara dengan kalimat-kalimat yang lembut dan penuh kasih sayang, dengan segala ungkapan yang dapat menyentuh hati serta beliau paparkan berbagai bukti tanda kekuasaan Allah l.
3. Sesungguhnya syubhat-syubhat (kerancuan) yang dilontarkan oleh musuh-musuh para rasul terhadap risalah yang mereka bawa, justru merupakan dalil yang sangat jelas tentang batilnya ucapan-ucapan para pendusta itu sendiri. Karena sesungguhnya apa yang mereka katakan tidak ada yang lain lagi kecuali itu, sama sekali tidak memiliki nilai keilmiahan dan tidak ada artinya bagi orang yang berakal. Maka perkataan mereka seperti yang dikisahkan oleh Allah l:
“Kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu, melainkan orang-orang yang hina-dina di antara kami yang lekas percaya saja, dan kami tidak melihat kamu memiliki sesuatu kelebihan apa pun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta.” (Hud: 27)
Perhatikanlah kalimat-kalimat tersebut, niscaya akan Anda dapatkan tamwih (pengaburan) yang menunjukkan bahwa mereka itu sesat dan sombong terhadap hakikat kenyataan yang ada. Juga ucapan mereka:
“Kami tidak melihat kamu melainkan sebagai seorang manusia (biasa) seperti kami.” (Hud: 27)
Apakah dalam suatu kebenaran yang dibawa oleh seseorang terdapat suatu kerancuan atau syubhat yang menunjukkan bahwa kebenaran itu pada hakikatnya bukanlah kebenaran? Pernyataan dalam ayat di atas seakan-akan menerangkan kepada kita bahwa segala pendapat atau pemikiran yang bersumber atau berasal dari manusia mana pun adalah batil. Tentu saja hal ini merupakan penolakan terhadap semua ilmu tentang kemanusiaan yang diperoleh dari manusia yang lain. Ringkasnya, pernyataan orang-orang kafir ini membatalkan seluruh ilmu yang ada.
Bukankah ilmu yang berada di tengah-tengah manusia, mereka ambil dari manusia yang lainnya dan semuanya bertingkat-tingkat? Tentunya yang paling tinggi, paling benar, dan paling bermanfaat dari ilmu-ilmu itu adalah ilmu yang mereka peroleh dari para rasul yang ilmunya dari wahyu Ilahi.
Demikian pula ucapan orang-orang yang kafir ini:
“Kami tidak melihat kamu memiliki sesuatu kelebihan apa pun atas kami.” (Hud: 27)
Yakni, kami dan kalian adalah sama-sama manusia. Ini pun sudah dibantah oleh para rasul, sebagaimana dikisahkan dalam firman Allah l:
“Kami tidak lain adalah manusia seperti kamu akan tetapi Allah memberi karunia kepada siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya.” (Ibrahim: 11)
Dalam ayat ini, Allah l menjelaskan bahwa Dia memberikan karunia kepada para rasul dan mengistimewakan mereka dengan wahyu dan risalah. Padahal, pengingkaran orang-orang kafir terhadap para rasul itu dari sisi ini, justru merupakan kebodohan dan celaan paling besar terhadap nikmat Allah l. Karena sesungguhnya nikmat Allah l dan hikmah-Nya mengharuskan bahwa para rasul itu berasal dari kalangan manusia agar lebih memantapkan manusia dalam mengambil ilmu dari mereka.
Sehingga mereka pun akan merasakan nikmat ini dengan mudah dan Allah l lapangkan pula bagi mereka jalan untuk mencapainya. Orang-orang yang dusta ini mengingkari asal kenikmatan ini, bahkan mengingkari pula jalan yang lurus yang bermanfaat yang dibawa oleh para rasul tersebut.
Adapun perkataan mereka:
“Kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu, melainkan orang-orang yang hina-dina di antara kami.” (Hud: 27)
Setiap orang yang berakal pasti mengetahui bahwa kebenaran itu dikenal dari materinya sendiri bahwa dia adalah haq, bukan dikenal dari siapa yang mengikutinya. Perkataan yang mereka ucapkan ini sesungguhnya bersumber dari kesombongan mereka. Sudah jelas bahwa sikap sombong merupakan penghalang terbesar yang ada dalam diri seorang hamba untuk mengenal kebenaran apalagi mengikutinya.
Juga ucapan mereka ﯦ (orang-orang yang hina-dina di antara kami). Kalau yang mereka inginkan dengan kalimat ini adalah kemiskinan maka kemiskinan bukanlah suatu aib (cela). Adapun kalau mereka maksudkan adalah akhlak maka ini jelas dusta. Bahkan sesungguhnya yang hina-dina adalah mereka yang mengucapkan kalimat ini. Apakah beriman dan taat kepada Allah l dan Rasul-Nya, tunduk mengikuti kebenaran, serta selamat dari perilaku atau watak yang tercela dan rendah, adalah suatu kehinaan serta orang-orang yang mengikutinya adalah orang yang hina-dina? Ataukah kehinaan itu berada pada keadaan sebaliknya, dengan meninggalkan kewajiban yang paling tinggi dan utama, yaitu mentauhidkan Allah l dan bersyukur hanya kepada-Nya, serta sebaliknya memenuhi hati dengan sikap sombong terhadap kebenaran dan terhadap sesama manusia?
Hal yang terakhir ini, demi Allah, justru merupakan kehinaan yang paling hina. Akan tetapi orang-orang kafir itu datang membawa kebohongan. Tidaklah mereka menyiksa orang-orang yang baik ini melainkan karena mereka beriman kepada Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji.
Perkataan mereka:
“Yang lekas percaya saja.” (Hud: 27)
Maksudnya yang percaya begitu saja kepadamu, wahai Nuh. Mereka tidak bermusyawarah dan meneliti lebih dahulu, tidak merenungkan lebih dahulu. Seandainya mungkin bahwa ini adalah suatu hakikat (kenyataan), maka ini semua merupakan bukti-bukti dari kebenaran tersebut. Karena sesungguhnya pada kebenaran itu terdapat burhan (petunjuk), cahaya, keagungan, kecemerlangan, kejujuran, dan ketenangan, yang semua itu tidak perlu dimusyawarahkan dengan siapa pun untuk mengikutinya.
Tentunya persoalan yang membutuhkan musyawarah itu adalah persoalan-persoalan yang masih tersamar yang belum diketahui hakikat atau manfaatnya. Sedangkan keimanan yang cahayanya justru lebih terang dari sinar matahari, bahkan lebih lezat dari apa pun juga, tidak ada yang ketinggalan untuk menerimanya melainkan orang-orang yang sombong dan sewenang-wenang seperti mereka yang durhaka ini.
Kata-kata mereka:
“Dan kami tidak melihat kamu memiliki sesuatu kelebihan apa pun atas kami.” (Hud: 27)
Apakah dalam perkataan ini terdapat sikap yang jujur dan adil? Karena sesungguhnya mereka di sini menerangkan keadaaan mereka sendiri. Memang ucapan ini ada kemungkinan demikian, yakni itulah yang ada dalam hati mereka (anggapan bahwa merekalah yang paling mulia), atau mereka hanya mengatakan sesuatu yang tidak mereka yakini. Apa pun alasannya, yang haq itu tetap wajib untuk diterima, baik yang mengatakannya orang yang mulia atau bukan. Al-haq itu tetap lebih tinggi di atas apa pun.
Perkataan mereka:
“Bahkan kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta.” (Hud: 27)
Padahal sudah sama diketahui bahwa prasangka (zhan) adalah perkataan yang paling berat dustanya. Seandainya mereka mengatakan ‘Bahkan kami tahu bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta’, maka semua orang yang sesat mampu mengucapkannya. Akan tetapi dengan dasar apa kalian menuduh para rasul itu dusta? Maka alasan dan bukti yang mereka kemukakan ini justru saling menggugurkan satu sama lain sebagaimana yang terlihat. Bagaimana mungkin, padahal para rasul itu juga telah menghadapinya dengan dalil (alasan-alasan), bukti yang bermacam-macam sehingga tidak menyisakan sedikit pun keraguan pada diri seseorang bahwa tuduhan tersebut adalah batil.
4. Antara keutamaan para nabi dan bukti-bukti risalah serta keikhlasan mereka yang sempurna tampak saat beribadah kepada Allah l secara khusus (untuk diri mereka sendiri) dan peribadatan mereka dalam memberikan manfaat bagi sesama makhluk, seperti berdakwah, taklim (mengajarkan ilmu), dan semua perangkatnya. Oleh karena itulah, mereka menampakkan dan berulang-ulang memperdengarkan hal ini kepada kaumnya. Masing-masing mereka menyatakan:
“Wahai kaumku, aku tidak meminta harta benda kepada kalian (sebagai upah) bagi seruanku. Upahku tidak lain hanya dari Allah.” (Hud: 29)
Hal ini menjadi kedudukan yang paling mulia bagi pengikut para rasul, yang mereka menyertai para rasul itu dalam segi ini. Allah l jadikan untuk mereka kemuliaan di dunia dan akhirat lebih besar daripada hal-hal yang menjadi persaingan mereka yang mengharapkan dunia.
5. Celaan terhadap niat orang-orang mukmin dan apa yang Allah l anugerahkan kepada mereka berupa keutamaan, bahkan mereka berani bersumpah atas nama Allah l, bahwasanya Dia tidak akan memberi karunia-Nya kepada orang-orang yang beriman. Semua itu tidak lain merupakan warisan dari musuh-musuh para rasul. Oleh karena itulah, Nabi Nuh q berkata kepada mereka tatkala mereka bersumpah demikian, menjadikannya jalan untuk mencela kaum mukminin:
“Dan aku juga tidak mengatakan kepada orang-orang yang dipandang hina oleh kalian, ‘Sekali-kali Allah tidak akan mendatangkan kebaikan mereka.’ Allah lebih mengetahui apa yang ada pada diri mereka.” (Hud: 31)
6. Sepantasnya untuk memohon pertolongan kepada Allah l dan menyebut nama-Nya ketika datangnya malapetaka dan kesulitan bahkan dalam segala aktivitas, serta memperbanyak pujian dengan menyebut nama Allah l ketika mendapatkan kenikmatan. Sebagaimana firman Allah l:
“Dan Nuh berkata, ‘Naiklah kalian ke dalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya’.”(Hud: 41)
“Maka apabila engkau dan orang-orang yang bersamamu telah berada di atas bahtera itu, ucapkanlah, ‘Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan kami dari orang-orang yang zalim’.” (al-Mu’minun: 28)
Sudah sepantasnya pula untuk berdoa, memohon berkah ketika singgah di suatu tempat persinggahan seperti dalam perjalanan atau tiba di tempat tinggal sendiri, rumah atau kampung halaman, karena adanya firman Allah l:
“Dan berdoalah, ‘Wahai Rabbku, tempatkanlah aku pada tempat yang diberkahi, dan Engkau adalah sebaik-baik yang memberi tempat’.” (al-Mu’minun: 29)
Dalam ayat-ayat tersebut disebutkan bahwa senantiasa berzikir menyebut nama Allah l, kekuatan untuk beraktivitas ataupun diam, kepercayaan yang penuh kepada Allah l, turunnya berkah dari Allah l, semua itu adalah pengiring yang lebih utama bagi seorang hamba dalam setiap keadaannya yang tidak boleh ditinggalkan begitu saja olehnya.
7. Bahwasanya takwa kepada Allah l dan melaksanakan segala yang dituntut oleh iman, merupakan sebagian sebab untuk memperoleh dunia, keturunan yang banyak, rezeki dan kekuatan fisik, meskipun untuk itu semua mesti ada sebab yang lain. Ketakwaan ini justru merupakan sebab satu-satunya, tidak ada sebab yang lain untuk mendapatkan kebaikan akhirat dan keselamatan dari siksanya.
8. Keselamatan dari hukuman dunia secara umum hanyalah untuk orang-orang yang beriman, yaitu para rasul dan para pengikut mereka. Karena hukuman dunia ini hanya khusus akan dialami oleh orang-orang yang durhaka dan yang mengikuti mereka dari anak cucu mereka, juga hewan-hewan meskipun mereka tidak mempunyai dosa. Karena sesungguhnya bencana yang Allah l timpakan kepada berbagai golongan orang yang dusta itu meliputi anak-anak dan ternak-ternak yang ada.
Adapun yang disebutkan dalam sebagian kisah Israiliyat (kisah-kisah Bani Israil, Yahudi, dan Nasrani) bahwa kaum Nabi Nuh ataupun yang lain, ketika Allah l ingin menghancurkan mereka, Allah l jadikan rahim-rahim wanita mereka mandul, sehingga hukuman tersebut tidak ikut menimpa anak-anak mereka merupakan kisah yang tidak ada dasarnya sama sekali. Tentu saja ini bertentangan dengan perkara yang sudah diketahui dan diperkuat pula oleh firman Allah l:
“Dan jagalah diri kalian dari fitnah (siksaan) yang tidak hanya khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kalian.” (al-Anfal: 25)
(Diterjemahkan dengan sedikit perubahan dari kitab Taisir al-Lathif al-Mannan hlm. 147—150)
http://asysyariah.com/syariah/ibrah/615-pelajaran-dari-kisah-nabi-nuh-ibrah-edisi-2.html Readmore.....
Umat Nabi Nuh ditenggelamkan
(ditulis oleh: Al-Ustadz Idral Harits)
Kaum Nabi Nuh q yang kafir ditenggelamkan Allah l dalam air bah yang sangat dahsyat. Semuanya binasa, termasuk putra Nabi Nuh q yang sebenarnya masih disayanginya.
Allah l menerangkan kepada beliau kepastian akan ditenggelamkannya kaumnya serta memerintahkan agar jangan mengatakan sesuatu kepada Allah l, karena mereka sesungguhnya benar-benar sangat zalim.
Mulailah Nabi Nuh q membuat kapal. Setiap kali pemimpin kaumnya melewati Nabi Nuh q, mereka mengejeknya. Nabi Nuh q berkata kepada mereka, ”Jika kalian mengejek kami saat ini, maka kami (pun) akan mengejek kalian (nanti) apabila bencana menimpa kalian.”
Allah l mewahyukan kepada Nabi Nuh q bahwa jika waktunya telah tiba dan seluruh permukaan bumi yang terjauh sekalipun telah memancarkan air, agar beliau segera mengangkut seluruh jenis hewan berpasang-pasangan, jantan dengan betina agar tetap berlanjut jenis (spesies) keturunan mereka. Karena tidak mungkin mengangkut semuanya ke atas kapal. Hikmahnya adalah melestarikan jenis hewan-hewan yang telah diciptakan Allah l dan ditundukkan untuk kemaslahatan manusia. Juga mengangkut orang-orang yang beriman bersama beliau, laki-laki dan perempuan. Memang kenyataannya tidak ada yang beriman kepada Nabi Nuh q melainkan sedikit sekali.Allah l juga memerintahkan Nabi Nuh q untuk membawa keluarga beliau kecuali orang yang sebelumnya telah berlaku ketetapan atasnya sebagai orang yang celaka. Setelah menaikkan semua yang diperintahkan, beliau berkata kepada mereka, “Sebutlah nama Allah l setiap kali berlayar atau berhenti. Karena semua sebab itu, betapapun besarnya, adalah karena kelembutan Allah l. Tidak akan sempurna (pengaruh) sebab-sebab itu kecuali dengan (izin) Allah l.”
Pada waktu itu, Allah l jadikan bumi memancarkan mata air-mata air serta memerintahkan langit agar menumpahkan air (hujan) sehebat-hebatnya. Maka bertemulah air itu dan mengalir ke tempat-tempat yang rendah. Sedikit demi sedikit air mulai naik menggenangi tempat-tempat yang tinggi, hingga menenggelamkan puncak-puncak gunung. Sementara kapal Nabi Nuh q berlayar menembus gelombang yang menggunung di kiri kanannya. Dalam keadaan yang mencekam ini, Nabi Nuh q melihat putranya yang kafir dan masih menganut agama kaumnya, ternyata masih menjauhi ayahnya meskipun sudah demikian keadaannya.
Beliau melihatnya seperti yang lain, berlarian menyelamatkan diri dari air bah yang melanda negeri mereka. Nabi Nuh q dengan penuh kasih sayang memanggil putranya:
“Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir.” (Hud: 42)
Tapi putranya tetap dalam keangkuhannya, dalam situasi yang semestinya hilang ketololan itu kecuali orang yang hatinya benar-benar telah tertutup. Ia berkata kepada ayahnya, seperti disebutkan oleh Allah l:
“Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat menyelamatkanku dari air bah ini.” (Hud: 43)
Tidak pernah terlintas dalam pikiran mereka bahwa air itu akan terus naik menenggelamkan puncak-puncak gunung setinggi apa pun. Nabi Nuh q berkata pula:
“Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah, selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang.” (Hud: 43)
Gunung ataupun menara dan lain-lainnya tidak akan dapat melindungi siapa pun, kecuali mereka yang mendapat rahmat dari Allah l. Rahmat-Nya dalam situasi yang demikian tentunya sudah jelas hanya untuk mereka yang ikut dalam kapal bersama Nabi Nuh q. Firman Allah l:
“Dan gelombang pun menjadi penghalang antara keduanya, maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.” (Hud: 43)
Anak Nabi Nuh q itu pun termasuk orang-orang yang ditenggelamkan Allah l.
Allah l menenggelamkan seluruh orang yang kafir serta menyelamatkan Nabi Nuh q dan orang-orang yang beriman. Semua kejadian ini menjadi bukti bahwa ajaran tauhid, risalah, berita kebangkitan (hidup sesudah mati), dan agama yang dibawa Nabi Nuh q adalah haq (pasti kebenarannya). Sedangkan mereka yang menyelisihi atau menentang beliau adalah batil.
Kejadian ini juga merupakan dalil akan adanya balasan di dunia bagi orang-orang beriman berupa keselamatan dan kemuliaan, serta kebinasaan dan kehinaan bagi orang-orang yang kafir (menentang).
Setelah tujuan utama ini tercapai, Allah l memerintahkan langit untuk menghentikan hujannya serta memerintahkan bumi agar menelan airnya. Air pun disurutkan (berkurang) sedikit demi sedikit. Bahtera (kapal) Nabi Nuh q berlabuh di atas bukit al-Judi, sebuah bukit terkenal di daerah Mosul, Irak (daerah Mesopotamia dahulu).
Semua ini menjadi dalil bahwa seluruh gunung yang ada telah ditenggelamkan dan dilanda oleh air bah ini. Nabi Nuh q sangat berduka terhadap apa yang menimpa putranya. Beliau berdoa kepada Allah l dengan penuh kelembutan dan ketundukan:
“Wahai Rabbku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji-Mu itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya.” (Hud: 45)
Yakni, Engkau perintahkan agar aku membawa keluargaku bersamaku, dan Engkau adalah penyayang yang paling baik. Maka Allah l pun berkata:
“Wahai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu.” (Hud: 46)
Yaitu keluarga yang telah dijanjikan akan keselamatan mereka. Karena sesungguhnya Allah l telah membatasi keadaan atau sifat keluarga yang dimaksudkan itu dengan firman-Nya:
“Kecuali orang yang telah terdahulu ketetapan atasnya.” (Hud: 40)
Allah l jelaskan pula:
“Sesungguhnya ini adalah perbuatan yang tidak baik.” (Hud: 46)
Yakni, doamu untuk keselamatan putramu yang menganut agama masyarakatnya ini bukanlah perbuatan yang baik. Allah l berfirman:
”Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakikatnya). Sesungguhnya Aku memperingatkanmu agar tidak termasuk orang-orang yang jahil (tidak berilmu).” (Hud: 46)
Ini adalah teguran Allah l kepada Nabi Nuh q, didikan dan nasihat atas permintaannya yang semata-mata terdorong oleh kasih sayang seorang ayah kepada putranya.
Dari sini bisa diambil pelajaran juga, yang wajib diperhatikan dalam doa seperti itu hendaknya dilandasi oleh ilmu dan keikhlasan dalam mengharapkan keridhaan Allah l. Maka Nabi Nuh q pun berkata, sebagaimana diceritakan dalam firman Allah l:
“Wahai Rabbku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari memohon kepada-Mu sesuatu yang aku tidak mengetahui (hakikatnya). Dan seandainya Engkau tidak memberi ampun kepadaku dan tidak menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang merugi. Difirmankan, ‘Hai Nuh, turunlah dengan selamat sejahtera dan penuh keberkahan dari Kami atasmu dan atas umat-umat (yang mukmin) dari orang-orang yang bersamamu. Dan umat yang Kami beri kesenangan kepada mereka (dalam kehidupan dunia), kemudian mereka akan ditimpa azab yang pedih dari Kami’.” (Hud: 47—48)
Beliau pun turun dan Allah l memberi berkah pada anak keturunannya. Allah l menjadikan anak cucu Nabi Nuh q sebagai orang-orang yang melanjutkan keturunan. Maka akhirnya anak-anak Yafuts putra Nabi Nuh q menyebar di belahan bumi bagian timur, keturunan Ham di sebelah barat, dan anak keturunan Sam di tengah-tengah (antara timur dan barat).
(bersambung, insya Allah)
http://asysyariah.com/syariah/ibrah/591-umat-nabi-nuh-ditenggelamkan-ibrah-edisi-1.html Readmore.....
Nabi Shalih dan Kaum Tsamud
(ditulis oleh:Al-Ustadz Abu Muhammad Harits)
Bangsa Tsamud dapat dikatakan sebagai bangsa ‘Aad yang kedua. Mereka tinggal di daerah Hijr (sekitar 300 km utara Madinah arah Jordania) dan sekitarnya. Bangsa ini memiliki peternakan dan pertanian yang demikian berlimpah. Kenikmatan demi kenikmatan datang silih berganti. Mereka mampu mengubah bumi yang datar menjadi istana yang mempunyai hiasan begitu indah. Juga gunung-gunung cadas menjulang mereka ubah menjadi gedung-gedung yang indah. Namun mereka tidak mengakui bahwa semua nikmat itu berasal dari Allah l. Mereka mengingkari itu semua. Yang lebih parah lagi, mereka melakukan peribadatan kepada selain Allah l.
Allah l kemudian mengutus kepada bangsa Tsamud, saudara mereka yang berasal dari kabilah mereka sendiri, yakni Nabi Shalih q. Mereka telah mengenal silsilah keturunan dan kedudukan Nabi Shalih q, juga keutamaan, kemuliaan, kejujuran, serta sikap amanahnya.
Beliau menyeru bangsa Tsamud untuk kembali kepada Allah l dan mengikhlaskan agama untuk-Nya semata. Mereka juga diseru Nabi Shalih q agar meninggalkan segala yang mereka sembah selain Allah l. Nabi Shalih q mengingatkan kaum Tsamud, akan nikmat-nikmat Allah l dan hari-hari-Nya serta umat-umat yang bertetangga dengan mereka. Namun dakwah Nabi Shalih q tidak ada yang mengikutinya kecuali sangat sedikit.
Pada waktu beliau memberi peringatan kepada mereka serta menegakkan dalil dan bukti atas wajibnya mentauhidkan Allah l, mereka justru merasa jijik, lari, dan menyombongkan diri.“Mereka berkata, ‘Wahai Shalih, sesungguhnya kamu sebelum ini adalah seorang di antara kami yang kami harapkan’.” (Hud: 62)
Yakni, kami harapkan dirimu melebihi kami semua karena kemuliaan akhlak dan adabmu yang menyenangkan.
Inilah pengakuan mereka sebelum keluar berbagai tuduhan keji dari mulut mereka. Dan tidaklah jatuh martabat Nabi Shalih q di tengah-tengah kaumnya kecuali hanya karena beliau mengajak mereka untuk beribadah kepada Allah Yang Maha Pencipta semata serta meninggalkan peribadatan terhadap sesama makhluk, menyeru mereka kepada kebahagiaan abadi. Tidak ada “dosa” beliau kepada mereka kecuali karena beliau menyelisihi bapak-bapak moyang mereka yang sesat, bahkan mereka sendiri jauh lebih sesat dari pendahulunya.
Kemudian Nabi Shalih q memberikan keterangan yang demikian jelas. Beliau paparkan ayat-ayat, bukti-bukti, dan na’mah (kemewahan) kepada seluruh kabilah.
Nabi Shalih q berkata, “Ini adalah unta Allah l yang tidak sama dengan unta lain, baik bentuk, keutamaan, maupun manfaatnya. Ia adalah satu tanda bukti kekuasaan Allah l bagi kalian akan kejujuranku dan luasnya rahmat Rabb kalian. Maka biarkanlah dia makan di bumi Allah l, Allah l yang menjamin rezekinya, dan kalian boleh memanfaatkannya. Kalian boleh mengambil air bergantian dengan unta ini setiap satu hari dan kalian boleh memerah air susu unta tersebut serta memenuhi bejana kalian. Dan hal ini terus berlanjut sampai waktu yang dikehendaki Allah l.”
Sementara di dalam kota itu sendiri terdapat sembilan tokoh yang menjadi setan di tengah-tengah bangsa Tsamud. Mereka selalu menentang dengan keras segala yang dibawa Nabi Shalih q. Mereka menghalangi manusia dari jalan Allah l dan berbuat kerusakan di muka bumi.
Nabi Shalih q telah memperingatkan bangsa Tsamud untuk tidak menyembelih unta tersebut tatkala melihat kesombongan dan penentangan mereka terhadap al-haq.
Pertama kali yang dilakukan orang-orang jahat ini adalah bermusyawarah mencari kesepakatan untuk bersama-sama menyembelih unta itu. Mereka pun setuju. Lalu bangkitlah salah satu kabilah paling celaka di antara mereka. Allah l mengatakan,
“Ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka.” (asy-Syams: 12)
Yakni, sesudah mereka bersepakat dan menghasut, mereka mengirim seseorang untuk menangkap dan menyembelih unta tersebut. Semuanya merestui bahkan memberikan semangat. Unta itu pun disembelih dan akhirnya menjadi sebab kebinasaan seluruh kabilah. Ketika Nabi Shalih q mengetahui hal itu dan melihat keadaan yang demikian mengerikan, beliau pun tahu bahwa azab pasti datang. Karena kejahatan mereka sudah demikian memuncak dan tidak ada harapan untuk diperbaiki atau diluruskan. Maka Nabi Shalih q pun berkata,
“Bersukarialah kalian di rumah kalian selama tiga hari, itu adalah janji yang tidak dapat didustakan.” (Hud: 65)
Dengan perkataan ini beliau memberikan peringatan kepada mereka semua, yang jauh ataupun yang dekat. Selama tiga hari itu, kesembilan pemimpin yang durhaka ini bersepakat untuk melakukan suatu urusan yang lebih buruk dari penyembelihan unta tadi. Yaitu mereka berusaha membunuh Nabi Shalih q. Mereka pun membuat perjanjian dan menyiapkan sumpah yang berat serta menyimpan makar ini agar tidak diketahui dan dicegah oleh kerabat Nabi Shalih q, karena keluarga beliau adalah orang yang terpandang di negeri itu. Mereka mengatakan,
“Sungguh kami benar-benar akan menyerang dia dan keluarganya tiba-tiba di malam hari.” (an-Naml: 49)
Kemudian kalau keluarganya mengira kita yang membunuhnya, kita siap bersumpah di hadapan mereka bahwasanya:
“Kami tidak menyaksikan kematian keluarganya itu dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang benar.” (an-Naml: 49)
Mereka segera melaksanakan makar yang besar ini. Akan tetapi walaupun mereka berbuat makar, Allah l membalas makar itu untuk Nabi Shalih q. Di saat mereka bersembunyi di balik-balik gunung mencari kesempatan untuk menyergap Nabi Shalih q, Allah l mulai mengazab mereka.
Jadilah mereka sebagai pelopor bagi kaumnya masuk ke dalam neraka Jahannam. Allah l mengirimkan kepada mereka shakhrah (batu besar) dari atas gunung dan menghancurkan mereka sampai terbunuh dengan cara yang sangat mengerikan.
Setelah berakhirnya batas waktu tiga hari itu, datanglah sebuah teriakan mengguntur dari atas dan gempa dahsyat dari bawah mereka. Akhirnya bangsa Tsamud mati bergelimpangan. Allah l selamatkan Nabi Shalih q dan orang-orang yang beriman bersama beliau. Beliau pun meninggalkan mereka seraya berkata,
“Wahai kaumku, sesungguhnya aku telah menyampaikan kepada kalian risalah Rabb-ku dan aku telah memberi nasihat kepada kalian, akan tetapi kalian tidak menyukai orang-orang yang memberi nasihat.” (al-A’raf: 79)
Faedah dari Kisah Nabi Shalih q
1. Dakwah para nabi itu semuanya adalah satu. Barang siapa mendustakan salah satu dari mereka berarti mendustakan seluruh nabi dan rasul, karena artinya mereka mendustakan al-haq yang disampaikan oleh masing-masing rasul tersebut. Oleh karena itu, disebutkan dalam setiap kisah para nabi: kaum Nabi Nuh telah mendustakan para rasul, kaum ‘Aad telah mendustakan para rasul, kaum Tsamud telah mendustakan para rasul, dan seterusnya.
2. Faedah lainnya adalah bahwa siksa Allah l itu datang menimpa umat-umat yang melampaui batas di saat kedurhakaan dan kejahatan mereka sudah demikian memuncak. Kekafiran dan pendustaan mereka benar-benar pantas untuk dibinasakan. Kepastian kebinasaan mereka adalah ketika kejahatan mereka benar-benar sudah demikian parah.
3. Sesungguhnya Allah l benar-benar mengawasi dan memberi tangguh kemudian sekali lagi memberi tangguh sampai ketika Dia ingin mengazab mereka, Allah l mengazab dengan azab dari Yang Mahaperkasa lagi Mahakuasa.
4. Suatu keyakinan yang sesat namun berurat akar adalah sikap yang diwarisi dari orang-orang yang mereka berprasangka baik terhadapnya, baik nenek moyang maupun orang lain, yang merupakan penghalang terbesar bagi seseorang untuk menerima al-haq. Yaitu sikap menerima kebenaran hanya datang dari nenek moyang atau bapak-bapak mereka.
Oleh karena itulah, alasan utama bangsa Tsamud menentang seruan Nabi Shalih q adalah perkataan:
“Apakah kamu melarang kami menyembah apa yang disembah oleh bapak-bapak kami?” (Hud: 62)
Umat-umat yang mendustakan seruan para rasul itu semua mengatakan hal yang sama.
“Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka.” (az-Zukhruf: 23)
5. Jalan ini tidak pernah sepi dari orang-orang sesat yang melintasinya. Sesungguhnya jalan tersebut adalah jalan para setan yang senantiasa merintangi manusia dari jalan Allah l. Sebagaimana telah diketahui bahwa jalan para rasul itu adalah jalan petunjuk dan kebenaran, maka tidak ada sesudah kebenaran itu melainkan kesesatan.
Wallahu a’lamu bish-shawab.
http://asysyariah.com/syariah/ibrah/663-nabi-shalih-dan-kaum-tsamud-ibrah-edisi-4.html Readmore.....
Kisah Seguci Emas
ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Harits)
Sebuah kisah yang terjadi di masa lampau, sebelum Nabi kita Muhammad n dilahirkan. Kisah yang menggambarkan kepada kita pengertian amanah, kezuhudan, dan kejujuran serta wara’ yang sudah sangat langka ditemukan dalam kehidupan manusia di abad ini.
Al-Imam Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah z, dia berkata: Rasulullah n bersabda:
اشْتَرَى رَجُلٌ مِنْ رَجُلٍ عَقَارًا لَهُ فَوَجَدَ الرَّجُلُ الَّذِي اشْتَرَى الْعَقَارَ فِي عَقَارِهِ جَرَّةً فِيهَا ذَهَبٌ فَقَالَ لَهُ الَّذِي اشْتَرَى الْعَقَارَ: خُذْ ذَهَبَكَ مِنِّي إِنَّمَا اشْتَرَيْتُ مِنْكَ الْأَرْضَ وَلَمْ أَبْتَعْ مِنْكَ الذَّهَبَ. وَقَالَ الَّذِي لَهُ الْأَرْضُ: إِنَّمَا بِعْتُكَ الْأَرْضَ وَمَا فِيهَا. فَتَحَاكَمَا إِلَى رَجُلٍ فَقَالَ الَّذِي تَحَاكَمَا إِلَيْهِ: أَلَكُمَا وَلَدٌ؟ قَالَ أَحَدُهُمَا: لِي غُلَامٌ. وَقَالَ الآخَرُ: لِي جَارِيَةٌ. قَالَ: أَنْكِحُوا الْغُلَامَ الْجَارِيَةَ وَأَنْفِقُوا عَلَى أَنْفُسِهِمَا مِنْهُ وَتَصَدَّقَا
Ada seorang laki-laki membeli sebidang tanah dari seseorang. Ternyata di dalam tanahnya itu terdapat seguci emas. Lalu berkatalah orang yang membeli tanah itu kepadanya: “Ambillah emasmu, sebetulnya aku hanya membeli tanah darimu, bukan membeli emas.”Si pemilik tanah berkata kepadanya: “Bahwasanya saya menjual tanah kepadamu berikut isinya.”
Akhirnya, keduanya menemui seseorang untuk menjadi hakim. Kemudian berkatalah orang yang diangkat sebagai hakim itu: “Apakah kamu berdua mempunyai anak?”
Salah satu dari mereka berkata: “Saya punya seorang anak laki-laki.”
Yang lain berkata: “Saya punya seorang anak perempuan.”
Kata sang hakim: “Nikahkanlah mereka berdua dan berilah mereka belanja dari harta ini serta bersedekahlah kalian berdua.”
Sungguh, betapa indah apa yang dikisahkan oleh Rasulullah n ini. Di zaman yang kehidupan serba dinilai dengan materi dan keduniaan. Bahkan hubungan persaudaraan pun dibina di atas kebendaan. Wallahul musta’an.
Dalam hadits ini, Rasulullah n mengisahkan, transaksi yang mereka lakukan berkaitan sebidang tanah. Si penjual merasa yakin bahwa isi tanah itu sudah termasuk dalam transaksi mereka. Sementara si pembeli berkeyakinan sebaliknya; isinya tidak termasuk dalam akad jual beli tersebut.
Kedua lelaki ini tetap bertahan, lebih memilih sikap wara’, tidak mau mengambil dan membelanjakan harta itu, karena adanya kesamaran, apakah halal baginya ataukah haram?
Mereka juga tidak saling berlomba mendapatkan harta itu, bahkan menghindarinya. Simaklah apa yang dikatakan si pembeli tanah: “Ambillah emasmu, sebetulnya aku hanya membeli tanah darimu, bukan membeli emas.”
Barangkali kalau kita yang mengalami, masing-masing akan berusaha cari pembenaran, bukti untuk menunjukkan dirinya lebih berhak terhadap emas tersebut. Tetapi bukan itu yang ingin kita sampaikan melalui kisah ini.
Hadits ini menerangkan ketinggian sikap amanah mereka dan tidak adanya keinginan mereka mengaku-aku sesuatu yang bukan haknya. Juga sikap jujur serta wara’ mereka terhadap dunia, tidak berambisi untuk mengangkangi hak yang belum jelas siapa pemiliknya. Kemudian muamalah mereka yang baik, bukan hanya akhirnya menimbulkan kasih sayang sesama mereka, tetapi menumbuhkan ikatan baru berupa perbesanan, dengan disatukannya mereka melalui perkawinan putra putri mereka. Bahkan, harta tersebut tidak pula keluar dari keluarga besar mereka. Allahu Akbar.
Bandingkan dengan keadaan sebagian kita di zaman ini, sampai terucap dari mereka: “Mencari yang haram saja sulit, apalagi yang halal?” Subhanallah.
Kemudian, mari perhatikan sabda Rasulullah n dalam hadits An-Nu’man bin Basyir c:
وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِي الْحَرَامِ
“Siapa yang terjatuh ke dalam syubhat (perkara yang samar) berarti dia jatuh ke dalam perkara yang haram.”
Sementara kebanyakan kita, menganggap ringan perkara syubhat ini. Padahal Rasulullah n menyatakan, bahwa siapa yang jatuh ke dalam perkara yang samar itu, bisa jadi dia jatuh ke dalam perkara yang haram. Orang yang jatuh dalam hal-hal yang meragukan, berani dan tidak memedulikannya, hampir-hampir dia mendekati dan berani pula terhadap perkara yang diharamkan lalu jatuh ke dalamnya.
Rasulullah n sudah menjelaskan pula dalam sabdanya yang lain:
دَعْ مَا يَرِيْبُكَ إِلَى مَا لاَ يَرِيْبُكَ
“Tinggalkan apa yang meragukanmu, kepada apa yang tidak meragukanmu.”
Yakni tinggalkanlah apa yang engkau ragu tentangnya, kepada sesuatu yang meyakinkanmu dan kamu tahu bahwa itu tidak mengandung kesamaran.
Sedangkan harta yang haram hanya akan menghilangkan berkah, mengundang kemurkaan Allah l, menghalangi terkabulnya doa dan membawa seseorang menuju neraka jahannam.
Tidak, ini bukan dongeng pengantar tidur.
Inilah kisah nyata yang diceritakan oleh Ash-Shadiqul Mashduq (yang benar lagi dibenarkan) n, yang Allah l berfirman tentang beliau n:
“Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (An-Najm: 3-4)
Kedua lelaki itu menjauh dari harta tersebut sampai akhirnya mereka datang kepada seseorang untuk menjadi hakim yang memutuskan perkara mereka berdua. Menurut sebagian ulama, zhahirnya lelaki itu bukanlah hakim, tapi mereka berdua memintanya memutuskan persoalan di antara mereka.
Dengan keshalihan kedua lelaki tersebut, keduanya lalu pergi menemui seorang yang berilmu di antara ulama mereka agar memutuskan perkara yang sedang mereka hadapi. Adapun argumentasi si penjual, bahwa dia menjual tanah dan apa yang ada di dalamnya, sehingga emas itu bukan miliknya. Sementara si pembeli beralasan, bahwa dia hanya membeli tanah, bukan emas.
Akan tetapi, rasa takut kepada Allah l membuat mereka berdua merasa tidak butuh kepada harta yang meragukan tersebut.
Kemudian, datanglah keputusan yang membuat lega semua pihak, yaitu pernikahan anak laki-laki salah seorang dari mereka dengan anak perempuan pihak lainnya, memberi belanja keluarga baru itu dengan harta temuan tersebut, sehingga menguatkan persaudaraan imaniah di antara dua keluarga yang shalih ini.
Perhatikan pula kejujuran dan sikap wara’ sang hakim. Dia putuskan persoalan keduanya tanpa merugikan pihak yang lain dan tidak mengambil keuntungan apapun. Seandainya hakimnya tidak jujur atau tamak, tentu akan mengupayakan keputusan yang menyebabkan harta itu lepas dari tangan mereka dan jatuh ke tangannya.
Pelajaran yang kita ambil dari kisah ini adalah sekelumit tentang sikap amanah dan kejujuran serta wara’ yang sudah langka di zaman kita.
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin dalam Syarah Riyadhis Shalihin mengatakan:
Adapun hukum masalah ini, maka para ulama berpendapat apabila seseorang menjual tanahnya kepada orang lain, lalu si pembeli menemukan sesuatu yang terpendam dalam tanah tersebut, baik emas atau yang lainnya, maka harta terpendam itu tidak menjadi milik pembeli dengan kepemilikannya terhadap tanah yang dibelinya, tapi milik si penjual. Kalau si penjual membelinya dari yang lain pula, maka harta itu milik orang pertama. Karena harta yang terpendam itu bukan bagian dari tanah tersebut.
Berbeda dengan barang tambang atau galian. Misalnya dia membeli tanah, lalu di dalamnya terdapat barang tambang atau galian, seperti emas, perak, atau besi (tembaga, timah dan sebagainya). Maka benda-benda ini, mengikuti tanah tersebut.
Kisah lain, yang mirip dengan ini, terjadi di umat ini. Kisah ini sangat masyhur, wallahu a’lam.
Beberapa abad lalu, di masa-masa akhir tabi’in. Di sebuah jalan, di salah satu pinggiran kota Kufah, berjalanlah seorang pemuda. Tiba-tiba dia melihat sebutir apel jatuh dari tangkainya, keluar dari sebidang kebun yang luas. Pemuda itu pun menjulurkan tangannya memungut apel yang nampak segar itu. Dengan tenang, dia memakannya.
Pemuda itu adalah Tsabit. Baru separuh yang digigitnya, kemudian ditelannya, tersentaklah dia. Apel itu bukan miliknya! Bagaimana mungkin dia memakan sesuatu yang bukan miliknya?
Akhirnya pemuda itu menahan separuh sisa apel itu dan pergi mencari penjaga kebun tersebut. Setelah bertemu, dia berkata: “Wahai hamba Allah, saya sudah menghabiskan separuh apel ini. Apakah engkau mau memaafkan saya?”
Penjaga itu menjawab: “Bagaimana saya bisa memaafkanmu, sementara saya bukan pemiliknya. Yang berhak memaafkanmu adalah pemilik kebun apel ini.”
“Di mana pemiliknya?” tanya Tsabit.
“Rumahnya jauh sekitar lima mil dari sini,” kata si penjaga.
Maka berangkatlah pemuda itu menemui pemilik kebun untuk meminta kerelaannya karena dia telah memakan apel milik tuan kebun tersebut.
Akhirnya pemuda itu tiba di depan pintu pemilik kebun. Setelah mengucapkan salam dan dijawab, Tsabit berkata dalam keadaan gelisah dan ketakutan: “Wahai hamba Allah, tahukah anda mengapa saya datang ke sini?”
“Tidak,” kata pemilik kebun.
“Saya datang untuk minta kerelaan anda terhadap separuh apel milik anda yang saya temukan dan saya makan. Inilah yang setengah lagi.”
“Saya tidak akan memaafkanmu, demi Allah. Kecuali kalau engkau menerima syaratku,” katanya.
Tsabit bertanya: “Apa syaratnya, wahai hamba Allah?”
Kata pemilik kebun itu: “Kamu harus menikahi putriku.”
Si pemuda tercengang seraya berkata: “Apa betul ini termasuk syarat? Anda memaafkan saya dan saya menikahi putri anda? Ini anugerah yang besar.”
Pemilik kebun itu melanjutkan: “Kalau kau terima, maka kamu saya maafkan.”
Akhirnya pemuda itu berkata: “Baiklah, saya terima.”
Si pemilik kebun berkata pula: “Supaya saya tidak dianggap menipumu, saya katakan bahwa putriku itu buta, tuli, bisu dan lumpuh tidak mampu berdiri.”
Pemuda itu sekali lagi terperanjat. Namun, apa boleh buat, separuh apel yang ditelannya, kemana akan dia cari gantinya kalau pemiliknya meminta ganti rugi atau menuntut di hadapan Hakim Yang Maha Adil?
“Kalau kau mau, datanglah sesudah ‘Isya agar bisa kau temui istrimu,” kata pemilik kebun tersebut.
Pemuda itu seolah-olah didorong ke tengah kancah pertempuran yang sengit. Dengan berat dia melangkah memasuki kamar istrinya dan memberi salam.
Sekali lagi pemuda itu kaget luar biasa. Tiba-tiba dia mendengar suara merdu yang menjawab salamnya. Seorang wanita berdiri menjabat tangannya. Pemuda itu masih heran kebingungan, kata mertuanya, putrinya adalah gadis buta, tuli, bisu dan lumpuh. Tetapi gadis ini? Siapa gerangan dia?
Akhirnya dia bertanya siapa gadis itu dan mengapa ayahnya mengatakan begitu rupa tentang putrinya.
Istrinya itu balik bertanya: “Apa yang dikatakan ayahku?”
Kata pemuda itu: “Ayahmu mengatakan kamu buta.”
“Demi Allah, dia tidak dusta. Sungguh, saya tidak pernah melihat kepada sesuatu yang dimurkai Allah l.”
“Ayahmu mengatakan kamu bisu,” kata pemuda itu.
“Ayahku benar, demi Allah. Saya tidak pernah mengucapkan satu kalimat yang membuat Allah l murka.”
“Dia katakan kamu tuli.”
“Ayah betul. Demi Allah, saya tidak pernah mendengar kecuali semua yang di dalamnya terdapat ridha Allah l.”
“Dia katakan kamu lumpuh.”
“Ya. Karena saya tidak pernah melangkahkan kaki saya ini kecuali ke tempat yang diridhai Allah l.”
Pemuda itu memandangi wajah istrinya, yang bagaikan purnama. Tak lama dari pernikahan tersebut, lahirlah seorang hamba Allah l yang shalih, yang memenuhi dunia dengan ilmu dan ketakwaannya. Bayi tersebut diberi nama Nu’man; Nu’man bin Tsabit Abu Hanifah t.
Duhai, sekiranya pemuda muslimin saat ini meniru pemuda Tsabit, ayahanda Al-Imam Abu Hanifah. Duhai, sekiranya para pemudinya seperti sang ibu, dalam ‘kebutaannya, kebisuan, ketulian, dan kelumpuhannya’.
Demikianlah cara pandang orang-orang shalih terhadap dunia ini. Adakah yang mengambil pelajaran?
Wallahul Muwaffiq.
http://asysyariah.com/syariah/ibrah/425-kisah-seguci-emas-ibrah-edisi-49.html Readmore.....
Hikmah Dakwah Nabi Ibrahim bagian 3
Sekali lagi Allah menyempurnakan nikmat-Nya kepada Ibrahim u dan merahmati pula isterinya Sarah yang telah berusia lanjut dan mandul dengan berita gembira akan lahirnya seorang putera dari rahimnya yaitu Ishaq u.
Sebagaimana dengan nabi-nabi terdahulu, ketika Allah mengutus Nabi Luth u kepada kaumnya, mereka juga mendurhakainya. Allah pun kemudian memutuskan untuk menyiksa mereka. Nabi Luth u sendiri boleh disebut sebagai murid Nabi Ibrahim sehingga hak Nabi Ibrahim terhadapnya sangat besar.
Datanglah para malaikat yang diutus untuk menghancurkan kaum Nabi Luth kepada Nabi Ibrahim dalam wujud manusia. Ketika mereka menemuinya dan mengucapkan salam, beliau menjawab salam itu dan segera menjamu mereka. Dan Allah memberi rizki yang luas dan kedermawanan kepada beliau di mana rumah beliau merupakan persinggahan para tamu.
Diam-diam beliau segera menemui isterinya kemudian menjumpai tamunya sambil membawa daging anak sapi gemuk yang telah matang dan menyuguhkannya kepada mereka. Beliau berkata:
“Silakan kalian makan.” (Adz-Dzariyat: 27)Firman Allah I:
“Maka tatkala dilihatnya tangan mereka tidak menjamahnya, Ibrahim memandang aneh perbuatan mereka, dan merasa takut.” (Hud: 70)
Yakni, karena menyangka jangan-jangan mereka pencuri.
Firman Allah I:
“Malaikat itu berkata: ‘Jangan takut. Sesungguhnya kami adalah (malaikat-malaikat) yang diutus kepada kaum Luth’.” (Hud: 70)
Pada waktu itu, Sarah-lah yang melayani mereka. Para malaikat itu memberi kabar gembira kepada Nabi Ibrahim dengan seorang anak yang alim (Ishaq). Mendengar berita ini, Sarah terpekik dan menepuk mukanya sendiri sambil tercengang, bingung bercampur rasa bahagia. Dia berkata:
“Apakah aku akan melahirkan anak padahal aku adalah seorang perempuan tua?” (Hud: 72)
Dan sebelumnya aku adalah seorang wanita yang mandul. Allah I mengisahkan hal ini dalam firman-Nya:
“Dan ini, suamikupun dalam keadaan sudah tua pula? Sesungguhnya ini benar-benar sesuatu yang sangat aneh. Para malaikat itu berkata: ‘Apakah kamu merasa heran tentang keputusan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan berkah-Nya dicurahkan atas kalian, wahai ahlul bait. Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Mulia.’” (Hud: 72-73)
Malaikat itu memberi kabar gembira kepada keduanya dengan kelahiran Ishaq yang nantinya akan mempunyai anak bernama Ya’qub. Dan Nabi Ibrahim dan istrinya akan berjumpa dengan cucunya itu. Oleh karena itulah, Nabi Ibrahim memuji Allah atas kesempurnaan nikmat yang diberikan-Nya. Firman Allah I:
“Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tuaku, Isma’il dan Ishaq. Sesungguhnya Rabbku, benar-benar Maha Mendengar doa.” (Ibrahim: 39)
Pelajaran dari Kisah Al-Khalil u
Perlu diketahui, semua yang dikisahkan oleh Allah I kepada kita melalui sejarah Nabi Ibrahim Al-Khalil u, maka kita dapatkan suatu perintah khusus, firman Allah I:
“(Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim.” (Al-Hajj: 78)
Yakni, tetaplah kamu mengikuti agama itu.
Firman Allah I:
“Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): ‘Ikutilah agama Ibrahim yang lurus’.” (An-Nahl: 123)
“Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia ketika mereka berkata kepada kaumnya…” (Al-Mumtahanah: 4)
Perintah khusus itu adalah agar mengikuti apa yang diyakini oleh beliau dalam masalah tauhid, pokok-pokok keyakinan (keimanan), akhlak, dan semua berita yang sampai kepada kita tentang beliau. Maka ketaatan kita mengikuti beliau merupakan bagian dari agama kita. Dan karena perintah ini merupakan perintah yang umum sifatnya untuk mengikuti semua hal ihwal beliau. Namun Allah I menyebutkan pula satu hal yang dikecualikan dalam perintah tersebut, yaitu firman-Nya:
“Kecuali ucapan Ibrahim terhadap ayahnya: “Sungguh saya akan memintakan ampun untukmu...” (Al-Mumtahanah: 4)
Maksudnya, untuk yang satu ini, janganlah kita menirunya, yaitu memohon ampunan untuk orang-orang musyrik. Dan permohonan ampunan dari Nabi Ibrahim untuk ayahnya ini sesungguhnya merupakan janji yang beliau ucapkan kepadanya. Maka ketika telah jelas baginya bahwa ayahnya ternyata adalah musuh Allah, beliaupun berlepas diri darinya.
1- Allah telah mengangkat Ibrahim sebagai khalil. Dan khullah lebih tinggi derajatnya dari al-mahabbah. Kedudukan khalil ini tidak didapatkan siapapun kecuali dua orang yaitu Nabi Ibrahim dan Muhammad r.
Kemuliaan yang Allah I berikan kepada beliau, Allah telah menjadikan nubuwwah dan Kitab ini berada di tangan anak-anak cucunya. Allah I mengeluarkan dari tulang sulbi (keturunan langsung) beliau dua golongan umat atau bangsa yang paling utama, yaitu bangsa Arab dan Bani Israil. Allah I memilihnya untuk membangun rumah-Nya yang merupakan rumah ibadah yang paling mulia dan paling awal diletakkan bagi manusia. Dia berikan karunia anak-anak kepadanya di saat usianya sudah lanjut. Allah I penuhi dunia ini, timur dan baratnya dengan sebutan atau namanya, bahkan hati setiap manusia pun mencintai dan memujinya.
2- Allah I mengangkat derajatnya dengan ilmu, keyakinan dan kekuatan hujjah. Allah I berfirman:
“Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang ada) di langit dan bumi agar dia termasuk orang-orang yang yakin.” (Al-An’am: 75)
“Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat. Sesungguhnya Rabbmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” (Al-An’am: 83)
3- Allah I menceritakan kerinduan Nabi Ibrahim untuk mencapai puncak suatu ilmu dan batasnya, di mana beliau berdoa kepada Allah I:
“...Wahai Rabbku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati.” Allah berfirman: “Belum yakinkah engkau?” Ibrahim menjawab: “Aku telah meyakininya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku).” Allah berfirman: “Ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah semuanya. Kemudian letakkan di atas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera.” Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Al-Baqarah: 260)
4- Sesungguhnya barangsiapa yang bertekad mengerjakan suatu ketaatan dan mencurahkan segenap kemampuannya dalam melakukan hal-hal yang menggiring kepada amalan ketaatan tersebut, namun ternyata ada yang menghalangi sempurnanya pekerjaan itu, maka balasannya telah Allah I tetapkan. Sebagaimana yang Allah I katakan tentang orang yang hijrah kemudian mati sebelum tiba di tempat tujuannya. Juga seperti yang diterangkan oleh Allah I dalam kisah penyembelihan, di mana Allah I menyempurnakan pahala bagi Nabi Ibrahim dan Isma’il ‘alaihimussalam ketika keduanya telah menyerah tunduk kepada Allah Idan siap melaksanakan perintah-Nya. Allah I mengangkat kesulitan yang mereka alami dan Allah I berikan kepada keduanya pahala dunia dan akhirat.
5- Di dalam kisah Nabi Ibrahim ini terdapat pula adab berdiskusi, cara dan tahapannya yang bermanfaat, serta bagaimana menggiring lawan dengan cara yang sangat jelas dipahami oleh mereka yang berakal. Di sini juga Allah tunjukkan bagaimana menundukkan para penentang yang keras kepala agar mengakui kesesatan pendapat atau pemikirannya sekaligus menegakkan hujjah kepada mereka dan sebagai bimbingan bagi mereka yang memang mencari petunjuk.
6- Di antara kenikmatan yang Allah I berikan adalah anak yang shalih. Dengan demikian, wajib bagi yang mendapatkannya untuk bersyukur, memuji Allah serta memohon kepada-Nya kebaikan bagi keturunannya sebagaimana yang dilakukan Al-Khalil u. Allah I menerangkan hal ini dalam firman-Nya:
“Segala puji hanya bagi Allah yang telah menganugerahkan aku di hari tuaku Isma’il dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Mendengar doa. Wahai Tuhan kami, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, wahai Tuhan kami, perkenankanlah doaku. Wahai Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapakku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat).” (Ibrahim: 39-41)
Dan Allah I menyebutkan pula pujian secara umum bagi mereka yang berdoa kepada Allah I untuk kebaikan anak cucunya:
“...sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya mencapai 40 tahun, ia berdoa: ‘Wahai Rabbku, tunjukilah aku agar mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku, dan supaya aku dapat beramal shalih yang Engkau ridhai. Dan berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri’.” (Al-Ahqaf: 15)
Karena apabila seorang hamba Allah meninggal dunia, terputuslah amalannya kecuali tiga perkara; sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak yang shalih yang mendoakan kebaikan untuknya.
7- Masya’ir atau tempat-tempat pelaksanaan manasik (haji dan umrah) merupakan suatu ketetapan. Di dalamnya terdapat berbagai pelajaran berkaitan dengan kedudukan Ibrahim Al-Khalil dan keluarganya dalam beribadah kepada Rabb mereka, juga dalam beriman kepada Allah dan para rasul-Nya. Juga adanya anjuran untuk menjadikan mereka sebagai panutan dalam setiap keadaan agama mereka. Firman Allah I:
“Dan jadikanlah sebagian maqam (tempat berdiri) Ibrahim sebagai tempat shalat.” (Al-Baqarah: 125)
8- Adanya perintah menyucikan Masjidil Haram dari berbagai najis kemaksiatan, baik dalam bentuk ucapan maupun perbuatan sebagai pengagungan kepada Allah dan perhatian serta dorongan bagi orang-orang yang beribadah di dalamnya atau di dalam masjid lainnya, karena adanya firman Allah I:
“…Dan bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, i’tikaf, ruku’ dan sujud.” (Al-Baqarah: 125)
“(bertasbih kepada-Nya) di dalam rumah-rumah (masjid-masjid) yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya.” (An-Nur: 36)
9- Wasiat yang paling utama secara mutlak adalah wasiat Nabi Ibrahim dan Nabi Ya’qub kepada anak-anaknya. Yaitu wasiat agar tetap menjalankan agama (Islam) dan agar bertakwa kepada Allah I serta bersatu padu di atasnya. Ini juga merupakan wasiat Allah I bagi orang-orang yang terdahulu dan yang terakhir, karena merupakan sumber kebahagiaan abadi dan keselamatan dari kejahatan dunia dan akhirat.
10- Seorang yang beramal, di samping wajib mengokohkan amalannya dan bersungguh-sungguh melaksanakan sesempurna mungkin, juga wajib untuk tetap berada di antara dua keadaan, takut dan berharap. Dan hendaknya ia memohon dengan penuh ketundukan kepada Rabbnya agar menerimanya, menyempurnakan segala kekurangan, serta memaafkannya. Sebagaimana yang dilakukan Ibrahim dan Isma’il ketika meninggikan pondasi Baitullah.
11- Berdoa kepada Allah I meminta kebaikan dunia dan agama adalah jalan para nabi Allah I. Begitu pula usaha untuk memperolehnya. Adapun kebaikan dalam agama merupakan pokok dan tujuan yang untuk itu makhluk diciptakan. Sedangkan dunia hanyalah sarana dan perantara. Doa Nabi Ibrahim u untuk penduduk Baitul Haram dengan dua hal tersebut dan alasan beliau memohonkan urusan dunia ini, adalah agar menjadi wasilah untuk bersyukur. Allah I berfirman menyebutkan hal ini:
“Dan berilah mereka rizki dari buah-buahan mudah-mudahan mereka bersyukur.” (Ibrahim: 37)
12- Dalam kisah Nabi Ibrahim u juga diterangkan syariat memuliakan tamu dan adab bertamu. Karena Allah I menerangkan tentang tamu tersebut bahwa mereka adalah orang-orang yang dimuliakan; mulia di sisi Allah. Dan Nabi Ibrahim u juga memuliakan mereka dengan menyambut mereka dengan ucapan dan perbuatan. Memuliakan tamu termasuk bagian dari iman. Dan di sini beliau melayani sendiri tamu-tamunya dengan segera menyambut mereka sebelum melakukan sesuatu. Kemudian beliau menemui mereka dengan harta terbaik berupa daging sapi gemuk yang beliau tawarkan kepada mereka tanpa perlu meninggalkan mereka mencarinya ke tempat lain. Lalu mengundang mereka makan dengan kalimat yang sangat lembut:
“Silakan kalian makan.” (Adz-Dzariyat: 27)
13- Disyariatkannya mengucapkan salam juga terdapat dalam kisah Ibrahim dan yang memulai lebih dahulu adalah yang akan masuk ke dalam rumah, dan wajib dibalas. Disyariatkan pula mengenali orang yang berhubungan dengan kita: shahabat, relasi atau tamu, karena disebutkan demikian dalam fiman Allah I:
“Sesungguhnya kalian adalah orang-orang yang tidak dikenal.” (Al-Hijr: 62)
Yakni, saya tidak mengenali kalian, dan saya suka kalau kalian memperkenalkan diri kalian kepada saya. Dan ucapan ini lebih lembut dari pada ucapan: “Saya mengingkari kalian”, atau semacamnya.
14- Anjuran agar keluarga (isteri) dan siapa saja yang bertanggung jawab mengatur urusan rumah tangga selalu bersiap diri. Maka Nabi Ibrahim dalam keadaan ini segera menemui isterinya dan seketika itu pula dia dapatkan makanan untuk tamunya telah siap dan hanya tinggal dihidangkan.
15- Mendapat anak dari Sarah yang telah senja dan mandul merupakan salah satu mukjizat Nabi Ibrahim u dan kemuliaan bagi Sarah sebagai wali Allah I .
Kisah seperti ini juga dialami Maryam yang memperoleh ‘Isa u, dan juga Yahya u bagi Nabi Zakariya u dan isterinya. Dan Allah I telah jadikan tanda adanya berita gembira ini bagi Nabi Zakariya u yaitu dengan beliau tidak berbicara dengan manusia selama tiga hari padahal beliau sehat, kecuali dengan isyarat. Keadaan ini dan yang sejenis adalah ayat (tanda-tanda kekuasaan) Allah I. Lebih ajaib daripada ini adalah diciptakannya Adam u dari tanah. Maha Suci Allah Yang Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.
16- Dalam kisah Nabi Ibrahim u terdapat pujian Allah I terhadap beliau yang menghadap Rabbnya dengan hati yang selamat. Firman Allah I:
“Pada hari yang tidak bermanfaat harta dan anak-anak, kecuali yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat.” (Asy-Syu’ara: 88-89)
Yaitu hati yang selamat dari kejahatan dan semua sebab-sebabnya. Hati yang penuh dengan kebaikan dan kemuliaan, bersih dari syubhat yang merusak ilmu dan keyakinan, bersih dari syahwat yang menghalangi seseorang mendapatkan kesempurnaan, bersih dari kesombongan dan riya’ (pamer), perpecahan, kemunafikan dan akhlak yang buruk, juga bersih dari khianat dan dendam. Penuh dengan tauhid dan iman serta tawadhu’ terhadap kebenaran dan rendah hati terhadap sesama manusia. Dan juga adalah hati yang penuh dengan nasehat bagi kaum muslimin, rasa suka beribadah kepada Allah I dan memberi manfaat bagi sesama hamba Allah I.
17- Apa yang Allah I sebutkan dalam kisah Nabi Nuh, Ibrahim, Musa, Harun dan Ilyas ‘alaihimussalam:
“Kesejahteraan dilimpahkan atas Nuh di seluruh alam.” (Ash-Shaffat: 79)
“Kesejahteraan dilimpahkan kepada Ibrahim.” (Ash-Shaffat: 109)
Disusul dengan firman Allah I:
“Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.” (Ash-Shaffat: 80)
Di sini Allah Yang Maha Pencipta menjanjikan bahwa setiap orang yang berbuat ihsan (baik) dalam ibadahnya serta berbuat baik pula terhadap sesama hamba Allah I, maka Allah I akan memberi pujian yang baik dan doa dari seluruh alam sesuai dengan perbuatan ihsannya. Ini adalah pahala yang disegerakan dan juga yang ditangguhkan. Semua ini adalah berita gembira bagi seseorang dalam kehidupan di dunia dan akhirat, dan merupakan tanda-tanda kebahagiaan.
http://asysyariah.com/syariah/ibrah/734-hikmah-dakwah-nabi-ibrahim-ibrah-edisi-7.html Readmore.....
Hikmah Dakwah Nabi Ibrahim bagian 2
(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Idral Harits)
Karena menghancurkan seluruh berhala milik kaumnya—hanya menyisakan patung yang paling besar—Nabi Ibrahim q pun ditangkap dan dibawa ke tengah lapangan. Namun sesungguhnya inilah yang diharapkan beliau agar dirinya bisa menegakkan hujjah (keterangan) di depan orang banyak.
Setelah kaumnya berkumpul, Nabi Ibrahim q dibawa ke hadapan mereka:
“Mereka bertanya, ‘Apakah kamu yang melakukan perbuatan ini terhadap sesembahan kami, wahai Ibrahim?’ Ibrahim menjawab, ‘Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya....’.” (al-Anbiya: 62—63)
Nabi Ibrahim q berkata demikian sambil memberi isyarat ke arah patung yang masih utuh. Kaum Nabi Ibrahim q berada dalam dua posisi: mau mengakui kebenaran karena tidak mungkin (tidak masuk akal) bila sebuah benda padat yang dibuat oleh tangan mereka sendiri mampu melakukan penghancuran terhadap patung-patung lain, atau mengatakan bahwa patung itulah yang menghancurkan patung-patung lain dan Nabi Ibrahim q bebas dari tuduhan. Padahal sudah sama diketahui bahwa mereka tidak akan mungkin menjawab dengan jawaban kedua. Nabi Ibrahim q mengatakan sebagaimana dalam firman Allah l:
“Maka tanyakanlah kepada berhala itu, kalau mereka memang dapat berbicara.” (al-Anbiya: 63)
(Ayat) ini menghubungkan suatu masalah dengan sesuatu yang mereka ketahui bahwa itu adalah mustahil. Pada waktu itu tampak jelas kebenaran, mereka pun mengakuinya dan kembali kepada kesadaran, lalu berkata sebagaimana diceritakan oleh Allah l:
“Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menzalimi (diri sendiri). Kemudian kepala mereka jadi tertunduk..” (al-Anbiya: 64—65)
Yakni, mereka mengakui kebatilan sifat Ilahiyyah pada berhala tersebut dalam waktu yang begitu singkat. Tampak hujjah Nabi Ibrahim q saat itu juga, sehingga tidak mungkin lagi bagi mereka untuk sombong menolak kebenaran tersebut. Akan tetapi alangkah cepat kembalinya keyakinan sesat mereka yang telah begitu kokoh tertanam dalam hati sehingga menjadi sifat yang lazim (sehingga begitu sulit diubah). Kalaupun ada yang menafikan keyakinan (sesat) tersebut, dia hanya datang sekejap untuk kemudian hilang lenyap. Firman Allah l:
“Kemudian kepala mereka jadi tertunduk, (lalu berkata), ‘Sesungguhnya kamu (wahai Ibrahim), telah mengetahui bahwa berhala-berhala ini tidak dapat berbicara’.” (al-Anbiya: 65)
Nabi Ibrahim q pun mencela mereka sesudah hujjah (keterangan) yang demikian jelasnya telah membungkam seorang pembantah di hadapan khalayak ramai. Beliau berkata kepada mereka sebagaimana diceritakan Allah l:
“Mengapakah kalian beribadah kepada selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun dan tidak pula memberi mudarat kepada kalian? Cis (celakalah) kalian dan apa yang kalian ibadahi selain Allah. Maka apakah kamu tidak berakal?” (al-Anbiya: 66—67)
Kalau mereka betul-betul mempunyai akal pikiran yang sehat, niscaya mereka tidak akan menyerahkan peribadatan kepada sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat dan mudarat, bahkan tidak dapat membela diri sendiri dari perbuatan orang yang ingin menimpakan kejelekan atasnya. Ketika mereka merasa tidak mampu untuk menandingi hujjah ataupun bukti ilmiah yang dikemukakan Nabi Ibrahim q, maka mereka menggunakan kekuasaan, kekerasan, dan kesewenang-wenangan untuk menghukum beliau. Mereka berkata,
“Bakarlah dia dan bantulah sesembahan kalian, jika kalian benar-benar hendak bertindak.” (al-Anbiya: 68)
Mereka pun segera menyalakan api yang demikian besar gejolaknya lalu melemparkan Nabi Ibrahim q ke dalamnya. Ketika sudah berada dalam keadaan demikian, beliau hanya berucap:
“Cukuplah Allah bagiku dan Dia adalah sebaik-baik Pelindung.”
Maka Allah l berkata kepada api,
“Wahai api, jadilah dingin dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim.” (al-Anbiya: 69)
Api itu pun tidak mampu memberi mudarat sedikit pun kepada Nabi Ibrahim q. Kaum Ibrahim q hendak berbuat makar terhadap Nabi-Nya dalam rangka membela sesembahan mereka dan menumbuhkan ketundukan serta penghormatan besar kepada sesembahan tersebut dalam hati dan para pengikut mereka. Namun makar itu justru menjadi kebinasaan bagi mereka. Pembelaan mereka ini betul-betul pembelaan yang besar menurut siapa pun yang menyaksikan peristiwa itu ataupun yang tidak menyaksikan.
Nabi Ibrahim q mendapat pertolongan dan kemenangan dari semua yang mengetahui hal itu. Sampai raja mereka pun mendebat Nabi Ibrahim q tentang Rabbnya dengan kedengkian dan sikap melampaui batas karena Allah l telah memberikan kepadanya pemerintahan. Nabi Ibrahim q mengatakan,
“Rabbku adalah yang telah menghidupkan dan mematikan.” Raja itu berkata, “Saya dapat menghidupkan dan mematikan.” (al-Baqarah: 258)
Kemudian Nabi Ibrahim q menggiring dia untuk menggugurkan dalilnya sendiri dengan tasharruf (perbuatan Allah l) yang mutlak. Beliau berkata,
“Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat.” Lalu heran terdiamlah orang kafir itu. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (al-Baqarah: 258)
Nabi Ibrahim q Pergi ke Syam
Nabi Ibrahim q akhirnya keluar bersama istri dan anak saudaranya, yaitu Nabi Luth q, meninggalkan kaumnya menuju daerah Syam. Setelah di Syam, suatu kali Nabi Ibrahim mengajak istrinya, Sarah, pergi ke Mesir. Sarah adalah wanita tercantik di masa itu. Maka ketika dia terlihat oleh raja Mesir yang kejam dan bengis, segera raja itu tak dapat menguasai diri dan menginginkan Sarah untuk menjadi miliknya.
Sarah memohon kepada Allah l agar menimpakan malapetaka kepada raja itu, sehingga raja itu hampir mati karenanya. Kemudian Raja itu menjauhi Sarah, namun berusaha mengganggu lagi untuk kedua kalinya. Akhirnya setiap kali raja itu berusaha mendekat, Sarah berdoa seperti semula yang mengakibatkan raja itu tersungkur. Kemudian Sarah berdoa agar raja itu kembali seperti semula. Barulah raja tersebut membebaskannya, bahkan memberi hadiah seorang pelayan Qibthi (Mesir) bernama Hajar.
Sejak muda Sarah adalah wanita mandul. Maka dia menghadiahkan pelayan itu kepada Nabi Ibrahim untuk menjadi istri keduanya, dengan berharap Allah l memberi beliau rezeki seorang anak dari pelayan tersebut. Akhirnya Hajar melahirkan Isma’il di saat usia Nabi Ibrahim sudah demikian lanjut.
Nabi Ibrahim begitu bahagia mendapatkan Isma’il. Namun sebaliknya, Sarah, semoga Allah l meridhainya, dihinggapi cemburu yang hebat. Dia bersumpah meminta Nabi Ibrahim q untuk tidak membiarkan Hajar tinggal bersamanya. Demikianlah yang memang diinginkan oleh Allah l. Semua ini merupakan salah satu sebab berangkatnya Nabi Ibrahim q bersama Hajar ke tempat di mana terletak Baitul Haram (Ka’bah). Seandainya tidak, maka hal itu juga sesungguhnya telah ada dalam diri beliau q.
Maka berangkatlah beliau bersama Hajar dan putranya Isma’il, menuju Makkah yang pada waktu itu belum ada penghuninya, belum ada air, tumbuhan, dan lain-lain. Beliau meninggalkan bekal untuk Hajar dan putranya berupa sekantung air dan kurma, kemudian menempatkan mereka di dataran yang dekat dengan lokasi sumur Zamzam. Kemudian beliau meninggalkan keduanya. Setelah tiba di lembah yang tak terlihat oleh Hajar dan putranya, beliau berdoa:
“Wahai Rabb kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Wahai Rabb kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (Ibrahim: 37)
Sampai akhir doa.
Hajar pun tunduk menerima keputusan Allah l dan mulai memakan bekalnya sampai akhirnya bekal itu pun habis. Mulailah Hajar dan putranya merasakan haus. Ibu Isma’il beranjak melihat-lihat keadaan sekitar dengan harapan menjumpai seseorang atau sesuatu yang dapat mengurangi lapar dan haus putranya. Dia mencoba mendaki bukit kecil Ash-Shafa dan melihat-lihat, namun ternyata tidak terlihat satu manusia pun. Kemudian ia mendaki bukit yang satunya yaitu Marwah akan tetapi juga tidak melihat seorang pun.
Demikianlah dia lakukan berulang-ulang sambil terus memohon pertolongan Allah l untuk dirinya dan putranya, serta sesekali dia menoleh ke arah putranya khawatir kalau-kalau ada hewan buas yang mengganggu. Setiap kali menuruni lembah, Hajar mempercepat langkah sampai mendaki bukit yang satunya agar tetap matanya mengawasi putranya.
Setiap kesulitan itu pasti ada jalan keluarnya. Setelah tujuh kali turun naik dari bukit ash-Shafa dan Marwah dia mendengar suara malaikat menggali tempat sumur Zamzam, maka memancarlah air dari tempat tersebut. Sungguh betapa gembiranya ibu Isma’il melihat ini. Dia pun minum sepuasnya dan menyusui Isma’il. Ia pun memuji Allah l atas nikmat yang demikian besar, kemudian ia membendung air itu agar tidak menyebar kemana-mana. Rasulullah n pernah bersabda:
“Semoga Allah merahmati Ummu Isma’il. Seandainya dia membiarkan air Zamzam begitu saja tentulah Zamzam akan menjadi mata air yang mengalir.”
Membangun Ka’bah
Kemudian datanglah serombongan kabilah Arab Jurhum dan tinggal di sana. Semakin lengkaplah nikmat yang diperoleh Ummu Isma’il.
Isma’il tumbuh menjadi seorang pemuda yang gagah. Dia memiliki perangai, kemauan, dan kewibawaan yang membuat kagum kabilah Jurhum. Setelah mencapai usia dewasa, ia pun menikah dengan salah seorang gadis dari kabilah tersebut. Pada masa-masa itu Hajar wafat, semoga Allah l meridhainya.
Suatu ketika Nabi Ibrahim q datang ke Makkah, sedangkan Isma’il ketika itu tidak berada di rumah tapi pergi berburu. Nabi Ibrahim menemui istri Isma’il dan bertanya kemana suaminya dan apa pekerjaannya. Wanita itu menceritakan bahwa suaminya pergi berburu dan kehidupan mereka sangat sulit. Nabi Ibrahim q kemudian berkata, “Kalau suamimu datang, sampaikan salam dari saya dan katakan kepadanya supaya mengganti palang pintu rumahnya.”
Kemudian Nabi Ibrahim q pun segera pulang karena suatu hikmah yang Allah l kehendaki. Tatkala Isma’il datang, dia seakan merasakan sesuatu. Lalu ia bertanya kepada istrinya. Istrinya menceritakan, “Tadi ada seorang tua yang keadaannya demikian (ia sebutkan sifat-sifat Nabi Ibrahim q). Ia bertanya tentang engkau dan saya terangkan kepadanya. Dia bertanya tentang kehidupan kita dan saya katakan kami dalam kesulitan. Dia titip salam untukmu dan berpesan agar engkau mengganti palang pintu rumahmu.”
Mendengar penuturan istrinya, Nabi Isma’il berkata, “Itu adalah ayahku dan engkaulah yang dimaksud dengan palang pintu itu. Kembalilah kau ke rumah orang tuamu.”
Setelah itu Nabi Isma’il menikah lagi dengan wanita yang lain. Tak lama datang pula Nabi Ibrahim, dan Nabi Isma’il kebetulan sedang pergi berburu. Beliau pun menemui istri Nabi Isma’il dan bertanya tentang Nabi Isma’il dan diterangkan oleh istrinya itu. Nabi Ibrahim juga bertanya tentang kehidupan mereka.
Istri Isma’il menceritakan bahwa kehidupan mereka dalam keadaan penuh kenikmatan dan kebaikan (ia adalah wanita yang baik, selalu mensyukuri nikmat Allah l dan kebaikan suaminya). Kemudian Nabi Ibrahim q berkata, “Kalau suamimu datang, sampaikan salamku dan katakan kepadanya supaya menetapkan palang pintu rumahnya.”
Setelah itu Nabi Ibrahim pun pulang dengan segera sebelum bertemu dengan Isma’il untuk suatu rahasia hikmah yang Allah l kehendaki. Ketika Nabi Isma’il pulang dari berburu, dia bertanya kepada istrinya, “Apakah tadi ada yang mengunjungi kamu?”
Istrinya menjawab, “Ya. Tadi ada seorang tua keadaannya demikian, demikian.”
Nabi Isma’il bertanya pula,”Apakah dia mengatakan sesuatu?”
Istrinya menjawab, “Dia bertanya kepada kami tentang dirimu dan saya pun bercerita. Dia bertanya pula tentang kehidupan kita, dan saya sampaikan bahwa kita dalam kenikmatan dan saya mengucapkan syukur serta memuji Allah l.”
Nabi Isma’il bertanya pula, “Kemudian apa lagi yang dia katakan?”
Istrinya berkata, “Dia titip salam untukmu dan memerintahkan agar engkau menetapkan palang pintu rumahmu.”
Nabi Isma’il berkata, “Itu adalah ayahku, engkau adalah palang pintu yang dimaksud, dan dia menyuruhku untuk tetap menahanmu (sebagai istri).”
Kemudian Nabi Ibrahim datang untuk ketiga kalinya. Beliau bertemu dengan Isma’il yang sedang memperbaiki sumur Zamzam. Ketika melihat ayahnya datang, dia berdiri menyambut sebagaimana layaknya seorang anak yang bertemu dengan ayahnya yang disayangi dan menyayanginya.
Nabi Ibrahim q berkata, “Wahai Isma’il, sesungguhnya Allah memerintahkan aku untuk membangun sebuah rumah di sini sebagai tempat ibadah bagi manusia sampai hari kiamat.”
Nabi Isma’il menjawab, “Saya akan membantumu.”
Maka mulailah keduanya membuat fondasi rumah tersebut. Nabi Ibrahim yang membangun sedangkan Nabi Isma’il mengambil dan menyerahkan batu-batu kepada beliau. Keduanya berdoa:
“Wahai Rabb kami, terimalah dari kami (amalan kami), sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Wahai Rabb kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk berserah diri kepada-Mu dan jadikanlah di antara anak cucu kami umat yang tunduk berserah diri kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkau Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. Wahai Rabb kami, utuslah untuk mereka seorang rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab (Al-Qur’an) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkau Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (Al-Baqarah: 127-129)
Setelah bangunan itu sempurna dan lengkap sebagai peninggalan yang besar dari Khalil (kekasih) Allah (Nabi Ibrahim q), Allah l memerintahkan beliau memanggil manusia untuk mengerjakan ibadah haji di Baitullah ini. Maka mulailah mereka menyeru manusia yang kemudian berdatangan menuju bait tersebut dari berbagai tempat yang jauh, supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat di dunia dan akhirat, sehingga mereka akan berbahagia dan hilang segala kesengsaraan mereka.
Pada saat demikian, ketika semakin tumbuh kecintaan terhadap Isma’il dalam hati Nabi Ibrahim q, Allah l berkehendak menguji Nabi Ibrahim q agar ia mengutamakan kecintaan kepada Allah l dan menjadi khalil-Nya yang semua itu tidak menerima adanya saingan ataupun sekutu. Maka Allah l memerintahkan beliau lewat mimpinya untuk menyembelih Isma’il, dan mimpi seorang nabi adalah wahyu dari Allah l. Nabi Ibrahim q berkata kepada Isma’il:
“Sesungguhnya aku melihat dalam mimpiku bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu; Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” Maka tatkala keduanya telah berserah diri...” (ash-Shaffat: 102—103)
Yakni, setelah keduanya tunduk dan siap melaksanakan perintah Allah l yang mengejutkan dan hampir-hampir
http://asysyariah.com/syariah/ibrah/713-hikmah-dakwah-nabi-ibrahim-bagian-2-ibrah-edisi-6.html Readmore.....
















