Tampilkan postingan dengan label Oase. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Oase. Tampilkan semua postingan

Agar Qalbu Semakin Baik

Senin, 17 Oktober 2011

(ditulis oleh: Al-Ustadz Qomar Suaidi)

Dalam bahasa Arab diistilahkan dengan zakatul qalb, yang berarti tumbuhnya hati  dan bertambah dalam kebaikan sehingga sempurna.
Perbuatan keji dan maksiat dalam qalbu ibarat kotoran-kotoran dalam jasmani. Jika jasmani bersih dari berbagai kotoran itu, maka akan murni kekuatannya, terlepas dari gangguan, sehingga akan beramal tanpa ada hambatan. Maka, berkembanglah jasmani itu.
Demikian pula qalbu. Jika lepas dari dosa-dosa dengan taubat, maka akan murni kekuatan dan kemauannya untuk melakukan kebaikan dan merasa aman dari segala daya tarik menuju kerusakan. Maka berkembanglah qalbu itu, tumbuh dan semakin kuat. Akan tetapi, tentunya tiada jalan menuju ke arah tersebut kecuali dengan mensucikan qalbu dari perbuatan keji dan maksiat sebagaimana Allah firmankan:

Readmore.....

Beberapa Penyakit Kalbu

(ditulis oleh: al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc)




Penyakit kalbu ada dua macam.
Pertama, sakit yang tidak dirasakan oleh yang mengidapnya. Contohnya adalah kebodohan, syubhat (kekaburan), keraguan, dan godaan syahwat. Keadaan ini sesungguhnya lebih menyakitkan, akan tetapi karena kalbu telah rusak dengan penyakit itu maka ia tidak merasakannya. Kebodohan dan hawa nafsunya menghalangi untuk menemukan sakitnya. Rasa sakit itu sebenarnya sudah ada namun karena tersibukkan oleh hal-hal lain, maka sakitnya tersembunyi. Ini lebih berbahaya dari penyakit yang satunya dan lebih susah untuk menyembuhkannya.
Obatnya ada pada para rasul dan para pengikut mereka. Merekalah para dokter penyakit ini.
Kedua, penyakit yang dirasakan langsung saat itu. Seperti kesedihan, gundah gulana, dan kemarahan. Penyakit ini bisa dihilangkan dengan menghilangkan sebab-sebabnya atau dengan melakukan sesuatu yang bertolak belakang dengan sebabnya.
Sebagai contoh adalah marah. Marah termasuk menyakitkan kalbu dan obatnya adalah dengan menghilangkan sebab kemarahan itu. Jika ia melakukan penyembuhan dengan cara yang benar maka sakitnya akan hilang. Allah l berfirman:
“Perangilah mereka, maka Allah akan azab mereka dengan tangan kalian, menghinakan mereka, menolong kalian atas mereka dan menyembuhkan dada-dada kaum mukminin serta menghilangkan kemarahan mereka dan Allah akan memberikan taubat-Nya kepada siapa yang Allah kehendaki.” (at-Taubah: 14—15)
Keberadaan orang-orang kafir itu merupakan sebab kemarahan orang-orang mukmin yang membuat sakit hati mereka. Maka dengan memerangi orang kafir kemarahan kaum mukminin hilang sehingga sembuh dari penyakit ini.
Namun jika mencari kesembuhan dengan cara kezaliman justru akan menambah sakitnya yang ia sangka akan menyembuhkannya.
Kesedihan dan gundah gulana juga merupakan penyakit kalbu. Menyembuhkannya dengan memunculkan rasa gembira dan senang. Jika ia menyembuhkan dengan cara yang haq maka akan hilang sakitnya. Namun jika kesembuhannya didapat dengan cara yang batil maka sakitnya akan bersembunyi dan akan menimbulkan penyakit-penyakit lain yang lebih berbahaya serta lebih sulit untuk disembuhkan.
Penyakit yang lain adalah kebodohan. Obatnya adalah dengan ilmu yang bermanfaat. Jika ia obati dengan ilmu yang tidak bermanfaat, ia bakal menyangka telah sembuh dari sakitnya. Padahal hakikatnya justru menambah penyakitnya. Ia sibuk dengan ilmu yang tidak bermanfaat hingga tidak mampu menangkap sakit yang tersembunyi pada dirinya. Padahal ilmu yang bermanfaat merupakan syarat untuk bisa sehat dan sembuhnya kalbu.
Penyakit lainnya adalah keraguan, obatnya adalah ilmu dan keyakinan yang didapatkan dengan cara yang haq.
Jadi obat bagi penyakit-penyakit hati ada yang bersifat tabiat serta ada yang bersifat keimanan dan syariat sesuai dengan penyakitnya.
(Diterjemahkan dengan penambahan dan pengurangan dari kitab Ighatsatul Lahafan karya Ibnu Qayyim al-Jauziyyah t hlm. 22—2

Readmore.....

Godaan Hawa Nafsu

Senin, 04 Juli 2011

ditulis oleh: Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc)

Setan telah berikrar untuk menggoda manusia. Ia bersumpah di hadapan Allah l setelah Allah l memutuskan bahwa dia harus keluar dari surga dalam keadaan terhina.




Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukumku tersesat, aku benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian aku akan datangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tida k akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” (Al-A’raf: 16-17)
Qatadah t mengatakan: “Wahai anak Adam, setan akan mandatangimu dari segala arah. Akan tetapi ia tidak akan mendatangimu dari arah atasmu. Ia tidak akan bisa menghalangi antara kamu dan rahmat Allah l.”
Ibnul Qayyim t mengatakan: “Jalan yang dilalui manusia ada empat, tidak ada yang lain. Seseorang terkadang mengambil arah kanan, terkadang mengambil arah kiri, terkadang mengambil arah depan, dan terkadang kembali ke belakang. Maka jalan mana saja yang ia tempuh dari arah-arah ini, ia akan mendapati setan mengintainya. Kalau dia menelusuri jalan tersebut untuk taat kepada Allah l, ia akan mendapati setan pada jalan itu untuk menghambatnya dan memutus jalannya, atau untuk melambankan ketaatannya. Sedangkan bila ia menelusuri jalan itu untuk berbuat maksiat, maka ia pun akan mendapati setan berada padanya untuk menyemangatinya atau untuk membantunya serta menghiasinya dengan angan-angan. Seandainya ia bisa turun maka setan pun akan menggoda dari arah sana.”

Readmore.....

Sebab Hilangnya Nikmat

Jumat, 01 Juli 2011


(ditulis oleh: Al-Ustadz Qomar Suaidi)



Ibnul Qayyim t menjelaskan:

Di antara malapetaka yang tersembunyi namun banyak menyebar adalah keberadaan seorang hamba pada sebuah kenikmatan yang Allah l karuniakan kepadanya dan Allah l pilihkan untuknya, lalu hamba tersebut merasa bosan dengannya dan meminta untuk beranjak menuju nikmat lain yang dia anggap lebih baik berdasarkan penilaiannya yang bodoh. Namun Allah l dengan kasih sayang-Nya tetap belum mengeluarkannya dari nikmat tersebut dan masih memaafkannya atas kebodohannya serta kejelekan pilihannya untuk dirinya sendiri.

Sampai nanti ketika dadanya terasa sesak terhadap nikmat tersebut, merasa marah dan resah dengannya, sehingga rasa bosan semakin menguat pada dirinya, Allah l pun akan mencabut nikmat tersebut dari dirinya. Maka ketika dia berpindah kepada apa yang dicari dan melihat perbedaan antara nikmat yang ia berpindah darinya dengan apa yang sekarang ia ada padanya, maka ia semakin gundah gulana, menyesal dan berharap untuk kembali kepada nikmat yang ia ada padanya dahulu.Bila Allah l menghendaki kebaikan dan kelurusan bagi hamba-Nya, Allah l akan mempersaksikan kepadanya bahwa apa yang ia sedang berada padanya merupakan salah satu nikmat Allah l dan merupakan keridhaan Allah l padanya, sehingga Allah l akan mengilhamkan dia untuk bersyukur. Oleh karena itu, manakala dia ingin berpindah darinya, iapun ber-istikharah kepada-Nya (minta dipilihkan oleh Allah l), dengan perasaan bahwa ia tidak mengetahui maslahat untuk dirinya, merasa lemah terhadapnya, dan menyerahkan urusannya kepada Allah l serta meminta-Nya pilihan yang terbaik.

Tidak ada bagi hamba sesuatu yang lebih mencelakakan daripada rasa bosannya terhadap nikmat Allah l. Karena, dengan begitu ia tidak melihatnya sebagai suatu nikmat dan ia pun juga tidak akan mensyukurinya. Ia juga tidak akan merasa senang dengannya, sehingga ia akan membencinya, mengeluhkannya dan menganggapnya sebagai musibah. Padahal itu sesungguhnya termasuk nikmat Allah l yang terbesar baginya.

Jadi, mayoritas manusia itu adalah musuh-musuh bagi nikmat yang Allah l bukakan untuk mereka. Mereka tidak merasakan dibukanya nikmat Allah l untuk mereka. Justru mereka berusaha menolaknya karena kebodohan dan sifat zalim mereka. Betapa sering sebuah nikmat berjalan menuju kepadanya sementara ia berupaya untuk menolaknya dengan kesungguhannya. Betapa banyak pula nikmat yang telah sampai kepadanya namun dia masih juga berusaha untuk menolaknya atau menghilangkannya karena kebodohan dan kezalimannya. Allah l berfirman:

“Yang demikian (siksaan) itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan mengubah suatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al-Anfal: 53)
Allah l berfirman juga:
“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (Ar-Ra’d: 11)
Sehingga, tidak ada yang lebih memusuhi nikmat daripada jiwa hamba itu sendiri. Dia bersama musuh dirinya yang sebenarnya telah membantu untuk melawan dirinya sendiri. (Ibarat) musuhnya melempar api terhadap nikmat, sementara dia yang meniup-niup api tersebut. Dia membantu musuhnya untuk melempar api kepadanya kemudian dia membantunya dengan meniupnya. Bilamana api semakin besar nyalanya, barulah ia meminta-minta bantuan untuk melawan api tersebut. Ujungnya adalah tidak ikhlas dalam menerima takdir.
Dan orang yang lemah akalnya akan menyia-nyiakan kesempatannya
Sehingga bila kehilangan sesuatu, ia akan mencela takdir (Al-Fawa’id hal. 201)
As-Sa’di t mengatakan: “Sesungguhnya Allah l tidak akan mengubah suatu nikmat yang Allah k berikan kepada suatu kaum, baik nikmat agama maupun nikmat duniawi. Bahkan Allah l akan menetapkannya dan menambahnya bila ia menambah rasa syukurnya. (Sehingga merekalah yang mengubah apa yang ada pada diri mereka) dari ketaatan kepada maksiat, sehingga mereka mengkufuri nikmat Allah dan menggantinya dengan ingkar. Allah l pun mencabut nikmat tersebut dan mengubahnya sebagaimana mereka mengubahnya pada diri mereka. Hal itu mengandung hikmah dan keadilan Allah l serta kebaikan-Nya kepada hamba-Nya, di mana Allah l tidak menghukum mereka melainkan karena kezaliman mereka sendiri.” (Tafsir As-Sa’di, Surat Al-Anfal: 53)
http://asysyariah.com/syariah/oase/379-sebab-hilangnya-nikmat-oase-edisi-47.html

Readmore.....

Buah dari Amalan


(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Abdul Jabbar)



Barangsiapa mengamalkan apa yang ia ketahui, Allah l akan memberikan kepadanya ilmu yang sebelumnya tidak ia ketahui. Ini sebagaimana firman Allah l:
“Dan orang-orang yang mendapat petunjuk Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan kepada mereka (balasan) ketakwaannya.” (Muhammad: 17)
Allah l juga berfirman:
“Dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka), dan kalau demikian, pasti Kami berikan kepada mereka pahala yang besar dari sisi Kami, dan pasti Kami tunjuki mereka kepada jalan yang lurus.” (An-Nisa’: 66—68)
Allah l berfirman pula:
“Wahai orang-orang yang beriman (kepada para rasul), bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian, dan menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan.” (Al-Hadid: 28)Allah l juga berfirman:
“Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman).” (Al-Baqarah: 257)
Allah l juga berfirman:
“Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan.” (Al-Ma’idah: 15—16)
Dan penguat akan hal ini banyak sekali dalam Al-Qur’an maupun As-Sunnah.
Demikian pula, barangsiapa yang berpaling dari mengikuti kebenaran yang telah ia ketahui karena mengikuti hawa nafsunya, akan mengakibatkan dia bodoh dan tersesat sehingga hatinya akan menjadi buta terhadap kebenaran yang jelas. Ini sebagaimana firman Allah l:
“Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka.” (Ash-Shaff: 5)
Juga firman Allah l:
“Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya.” (Al-Baqarah: 10)
Juga firman Allah l:
“Mereka bersumpah dengan nama Allah dengan segala kesungguhan, bahwa sungguh jika datang kepada mereka sesuatu mukjizat pastilah mereka beriman kepada-Nya. Katakanlah: ‘Sesungguhnya mukjizat-mukjizat itu hanya berada di sisi Allah.’ Dan apakah yang memberitahukan kepadamu bahwa apabila mukjizat datang mereka tidak akan beriman? Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seakan-akan mereka tidak pernah beriman kepada Al-Qur’an sebelumnya.” (Al-An’am: 109—110)
Ini adalah bentuk pertanyaan peniadaan dan pengingkaran, ‘dan apakah yang memberitahukan kepadamu bahwa apabila mukjizat datang, mereka tidak akan beriman? Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seakan-akan mereka tidak pernah beriman kepada Al-Qur’an sebelumnya’, menurut qiraah (bacaan) yang mengkasrah innaha ‘sungguh’, sebagai penegasan bahwa apabila mukjizat itu telah datang mereka tidak akan beriman, dan Kami akan memalingkan hati dan penglihatan mereka seakan-akan mereka tidak pernah beriman kepadanya (Al-Qur’an) sebelumnya. Oleh karena itu, sebagian Salaf, di antaranya Sa’id bin Jubair t, mengatakan bahwa termasuk balasan atas suatu kejelekan adalah kejelekan yang setelahnya.
Disebutkan dalam Ash-Shahihain dari Ibnu Mas’ud z, dari Nabi n, beliau bersabda, “Berpeganglah kalian dengan kejujuran, karena kejujuran itu akan membimbing kepada kebaikan, dan kebaikan akan membimbing kepada surga. Senantiasa seorang hamba berlaku jujur dan membiasakannya, hingga dia dicatat di sisi Allah l sebagai seorang yang shiddiq (jujur). Berhati-hatilah kalian dari kedustaan, karena kedustaan itu akan membimbing kepada kejahatan, dan kejahatan itu akan membimbing kepada neraka. Senantiasa seorang hamba berdusta dan membiasakannya, hingga dicatat di sisi Allah sebagai seorang pendusta.”
Dalam hadits ini, Nabi n mengabarkan bahwa kejujuran adalah satu pokok yang akan menghasilkan kebaikan, sebagaimana dusta juga satu pokok yang akan menghasilkan kejelekan/dosa.
Allah l berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar berada dalam surga yang penuh kenikmatan, dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka.” (Al-Infithar: 13—14)
(Diambil dari At-Tuhfah Al-‘Iraqiyyah fil A’mal Al-Qalbiyyah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, hlm. 5—6)
http://asysyariah.com/syariah/oase/809-buah-dari-amalan-oase-edisi-60.html

Readmore.....